FIP UNESA Hidupkan Tradisi Akademik lewat Mimbar Ilmiah 

fip.unesa.ac.id, SURABAYA – Masih dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menggelar kegiatan Mimbar Ilmiah dengan tema “Semesta Bergerak Bersama, Transformasi Berdampak: Menuju Pendidikan Bermutu yang Tangguh, Inklusif, Adaptif, dan Inovatif” yang berlangsung secara daring pada hari Selasa 19 Maret 2025.

Kegiatan ini dihadiri oleh 7 narasumber dari jajaran dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNESA, yakni Prof. Dr. Erny Roesminingsih, M.Pd., dari prodi Manajemen Pendidikan (MP), Khofidatur Rofiah, Ph.D., dari prodi Pendidikan Luar Biasa (PLB), Dr. Devi Ratnasari, M.Pd., dari prodi Bimbingan dan Konseling (BK), Dr. Cucu Suharti, M.Pd., dari prodi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD), Dr. Zaenal Abidin, M.Pd., dari prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Dr. Tri Ulya Qodriati, M.Pd., dari prodi Pendidikan Luar Sekolah (PLS), dan Dr. Nurainiyah, M.Pd., dari prodi Teknologi Pendidikan (TP).

Acara dibuka oleh sambutan Rektor Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNESA, Prof. Dr. Mochamad Nursalim, M.Si. Dalam sambutannya ia berharap agar kegiatan Mimbar Ilmiah menjadi kegiatan tradisi akademik yang selalu dihidupkan agar bisa mewarnai gerak langkah akademik dari mahasiswa maupun pendidik FIP UNESA. 

Selanjutnya disambung dengan paparan materi dari Prof. Dr. Erny Roesminingsih, M.Pd., yang menjelaskan pentingnya inovasi berbasis human development dalam Pendidikan. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa perubahan inovasi dan penciptaan hal baru di dunia pendidikan harus bermuara pada Human Development Oriented (orientasi pengembangan manusia) demi mewujudkan pembelajaran yang berkelanjutan.

Prof. Dr. Erny Roesminingsih, M.Pd., menyimpulkan bahwa untuk mendorong peningkatan kualitas pembelajaran dan ekosistem kampus yang sehat, diperlukan pemimpin transformasional yang kuat serta pembentukan budaya etis yang konsisten di lingkungan kampus yang sesuai seperti nilai-nilai luhur pada pemikiran Ki Hajar Dewantara.

Materi kedua disampaikan oleh Khofidatur Rofiah, Ph.D., memaparkan hasil penelitian longitudinal kolaboratifnya mengenai pentingnya Disaster Risk Reduction Education (DRRE) atau Pendidikan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang inklusif. Ia menyoroti kesenjangan besar antara regulasi yang sudah kuat tentang hak perlindungan bencana bagi disabilitas. Berdasarkan kajian literatur sistematis berbasis Scopus yang ia lakukan, hanya ada satu program yang menyentuh anak disabilitas yang masih dikategorikan secara umum sebagai kelompok rentan tanpa akomodasi teknis yang spesifik. 

Maka dari itu, Khofidatur Rofiah, Ph.D., menawarkan dua model utama pembelajaran PRB di sekolah dasar, yaitu pendekatan subjek khusus dan pendekatan infusionis seperti mengintegrasikan materi ke mata pelajaran yang sudah ada seperti Geografi yang mana menggunakan komponen inklusif melewati pengembangan media yang menyenangkan dan interaktif. 

Di akhir pemaparannya, ia mengajak seluruh peserta untuk mulai mengubah sudut pandang terhadap lingkungan inklusif, karena penanganan bencana yang sukses selalu dimulai dari cara kita memandang sekitar. “Cara kita berpikir, cara kita merasakan sesuatu, dan cara kita kemudian memutuskan sesuatu itu penting sekali karena erat kaitannya dengan attitude. Mulai sekarang, cara pikir dan cara merasa kita perlu diubah untuk kemudian mendukung lingkungan yang inklusif,” Jelasnya.

Selanjutnya, pemaparan materi dari Dr. Devi Ratnasari, M.Pd., selaku dosen Bimbingan dan Konseling (BK) yang menjelaskan tentang Mengenalkan Model Bimbingan Sufistik Tadabur Alam. Ia menjelaskan bahwa mahasiswa seringkali dihadapkan dengan rasa ragu, takut akan gagal, hingga fenomena FOMO (Fear of Missing Out) akibat media sosial. Maka dari itu, Dr. Devi Ratnasari, M.Pd., mengenalkan sebuah inovasi layanan melalui penelitiannya yang bertajuk Model Bimbingan Sufistik Tadabur Alam. 

Model ini menggabungkan ilmu Bimbingan Konseling, psikologi, dan nilai spiritualitas Islam, khususnya konsep Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa) dari Al-Ghazali serta pemikiran Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Menariknya, uji coba model ini terbukti bersifat universal dan adaptif saat diterapkan pada mahasiswa non-muslim. 

Penyampaian 3 materi dari narasumber ini mendapatkan apresiasi hangat dari peserta yang hadir. Sesi tanya jawab juga dilakukan di tiap-tiap pemaparan materi sehingga kegiatan ini berlangsung interaktif. Melalui kegiatan ini, kedepannya diharapkan dapat terus konsisten digelar dan menjadikan wadah diseminasi riset inovatif untuk FIP UNESA. 

Penulis: Rinjani Risna Arum (MP)

Editor: Dede Rahayu Adiningtyas (PGSD)