Memuat halaman...

FIP UNESA

FIP Unesa Gelar The 3RD ICEI 2019

Senin, 2 September 2019

fip.unesa.ac.id - Surabaya, “Teknologi bukan untuk ditakuti melainkan teknologi harus dijadikan peluang kita untuk memperbaiki dan mengembangkan pendidikan” ujar Ibu Siti Ina Savira, S.Psi., M.EdCp. saat menjadi moderator penyampaian materi bersama Keynote Speakers.

Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) – Universitas Negeri Surabaya telah berhasil menggelar event The 3rd ICEI (International Conference on Education Innovation) 2019 di Hotel Wyndham Suarabaya pada Sabtu, 24 Agustus 2019 ini mengangkat tema “Empowering Education in Society 5.0 Era”.

Kegiatan ini dinyatakan telah dibuka ditandai oleh adanya pemukulan Gong yang dilakukan secara bergantian diawali oleh bapak Wakil Rektor bidang Akademik Prof. Dr. Bambang Yulianto, M.Pd; Prof H. Ahmad Sonhadji K.H., M.A., P.hD,; Drs. M. Nursalim, M.Si,; dan Drs. Wagino, M.Pd

Kegiatan ini dihadiri oleh 250 orang yang terdiri atas 133 presenter, 22 undangan, dan 95 mahasiswa S1. Para tamu undangan tersebut terdiri atas bapak Wakil Rektor bidang Akademik yaitu Prof. Dr. Bambang Yulianto, M.Pd selaku wakil dari birokrasi Rektorat, serta Jajaran Pendidik dan Tenaga Pendidik FIP.

Seperti tujuan utama dari Seminar International ini yaitu untuk menjembatani para ilmuwan, ahli dan praktisi pendidikan serta mahasiswa untuk berbagi ide dan masalah tentang pengetahuan teoritis dan praktis dalam dunia pendidikan (Teknologi Pendidikan, Manajemen Pendidikan, Psikologi Pendidikan, Bimbingan dan Konseling, Pendidikan Dasar, Pendidikan Luar Biasa, Pendidikan Non-formal, dan Pendidikan Anak Usia Dini) maka diundanglah sejumlah pembicara dari kalangan akademisi dan peneliti pada dunia Pendidikan. Para ahli -yang bertindak sebagai Keynote Speaker- pada the 3rd ICEI 2019 ini adalah

  1. Prof. H. Ahmad Sonhadji K.H., M.A., P.hD dari Universitas Negeri Malang, Indonesia.
  2. Assoc. Prof. Dr. Susan Ledger dari Murdoch University, Australia
  3. Bambang Sumintono, P.hD dari University of Malaya, Malaysia

Prof. H. Ahmad Sonhadji selaku pembicara pertama menyampaikan bahwa di era 5.O ini Pendidikan Tinggi semakin mempunyai tantangan luar biasa sehingga harus mampu mengemban peran penting dalam mempersiapkan mahasiswanya menghadapi segala kedisrupsian era ini. “Digital maket place semakin mengharuskan setiap orang untuk dapat cerdas mengendalikan kemajuan teknologi tersebut. Yang ada adalah manusia yang mengendalikan Teknologi, bukan teknologi yang mengendalikan manusia.” Tambahan dari bapak yang mengenakan setelan jas berwarna coklat dan berdasi motif garis-garis tersebut.

Bambang Sumintono, P.hD University of Malaya, Malaysia yang berjudul Leading School Turnaround in a Developing Country: a case study in Indonesia. Pemateri yang mengenakan kemeja batik berwarna biru tersebut membahas poin yang berbeda dari dua pemateri lain, beliau menyampaikan tentang bagaimana memimpin sekolah yang berkelas menengah ke bawah di negara berkembang ini, dan studi kasus yang ada di negara Indonesia. Dari pembahasannya dapat disimpulkan bahwa kondisi sekolah menengah ke bawah ini cukup memprihatinkan yang mana kemampuan material masih belum bisa mencukupi pengembangan serta pengadaan/aksesibilitas teknologi digital yang membutuhkan modal lumayan besar. Oleh karena itu kepemimpinan sekolah memegang peranan penting dalam menciptakan kondisi untuk perbaikan dan perubahan yang langgeng mengacu pada sekolah yang telah secara signifikan meningkatkan kinerjanya dari ambang batas rendah

Assoc. Prof. Dr. Susan Ledger. Murdoch University, Australia menyampaikan penelitiannya yang berjudul Simulation in Higher Education: Choice, Challenges and Changing Practices. Dr Susan Ledger yang berasal dari Murdoch University, Western Australia menyampaikan bahwa dikatakan banyak lembaga menemukan diri mereka tidak menyadari keragaman teknologi di dalam universitas mereka sendiri mereka mencari bimbingan dan dukungan dari pihak eksternal daripada keahlian lokal dengan itu dapat disimpulkan Simulation artinya proses simulasi kurang dimanfaatkan oleh guru secara maksimal, Choice artinya pilihan pembelajaran harus transformatif bukan substitusi, Challenges artinya tantangan yang ada perlu diprediksi dan menantang, Changing Practices artinya ketika mengubah praktik membutuhkan perencanaan dan visi. Oleh karena itu pula Dr Susan Ledger mengembangakan pemanfaatan teknologi yang semula hanya ada dalam ruang kelas dirubah menjadi teknologi sebagai ruang kelas yang biasanya disebut Classroom Avatars >> SimLab@Murdoch – Australian Site License (Mursion). Simulasi Kelas Avatar ini merepresentasikan visual pengguna, menjadi suatu alter ego atau karakter tertentu. Setelah pemaparan materi dari para keynote speakers agenda seminar berikutnya ialah penyampaian materi dari para speakers di ruangan masing-masing.

“harapannya, agar kedepan bisa lebih bekerja sama lagi dengan UNESA untuk mengadakan research bersama. Karena yang namanya networking itu bukan hanya saling mengenal tetapi tentang bagaimana saling berbagi, anda membagi sesuatu dan yang lain membagi sesuatu kepada anda. Kerja sama dengan dosen dan mahasiswa di UNESA” sahut sang pembicara, Bambang Sumintono seorang lulusan Victoria University of Wellington. “sangat menginspirasi dan menjadi pengalaman berharga bagi saya, semoga ICEI dapat terus terlaksana dengan kualitas yang meningkat pula.” ujar peserta sekaligus presenter ICEI 2019, M. Fahmi Zakariyah Mahasiswa S1 PLS-2015.

Kategori: Berita

Share