Surabaya, FIP UNESA — Terobosan penting dalam tata kelola pendidikan inklusif di Indonesia kembali dicetuskan oleh akademisi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (FIP UNESA). Fadhillah, mahasiswa Program Studi S3 Manajemen Pendidikan, merancang proposal disertasi berdaya guna tinggi mengenai pengembangan model Inclusive Learning Based Data (ILBD). Di bawah bimbingan Prof. Dr. Andi Kristanto, S.Pd., M.Pd. dan Dr. Amrozi Khamidi, S.Pd., M.Pd., penelitian doktoral ini bertujuan untuk memperkuat kepemimpinan instruksional kepala sekolah dasar alam inklusi di Provinsi Aceh, khususnya di wilayah Aceh Besar, Aceh Barat Daya (Abdya), dan Bireuen, dalam mengambil keputusan akademik yang presisi dan berbasis data konkret.
Riset ini diinisiasi atas dasar kenyataan bahwa pengelolaan Sekolah Dasar Alam Inklusi menuntut kepemimpinan instruksional yang mampu mengintegrasikan proses pembelajaran, asesmen, serta pengambilan keputusan akademik secara terstruktur. Namun, praktik di lapangan menunjukkan bahwa keputusan akademik yang diambil kepala sekolah dan tim pendidik sering kali masih bersifat subjektif, terfragmentasi, serta belum didukung oleh sistem pengelolaan data pembelajaran anak berkebutuhan khusus yang sistematis. Kondisi ini berpotensi menghambat pemenuhan hak belajar murid inklusi serta menurunkan efektivitas tata kelola sekolah dasar alam secara keseluruhan.
Menjawab tantangan tersebut, Fadhillah mengadopsi pendekatan Research and Development (R&D) dengan metode campuran (mixed methods) yang merujuk pada kerangka pengembangan Borg dan Gall. Penelitian ini dilaksanakan di beberapa SD Alam Inklusi di Provinsi Aceh dengan melibatkan kepala sekolah, guru kelas inklusi, Guru Pendamping Khusus (GPK), murid, hingga orang tua siswa yang dipilih secara purposif. Cara kerja model ILBD memadukan pengumpulan data perkembangan akademik dan sensorik siswa ke dalam instrumen terpadu, yang menjadi pijakan analisis kualitatif model interaktif serta pengujian kuantitatif berbasis desain pretest-posttest.
Riset pengembangan ini diproyeksikan menghasilkan instrumen dan tata kelola model ILBD yang tidak hanya layak dan praktis, tetapi juga terbukti efektif secara statistik melalui uji gain ternormalisasi serta uji beda berpasangan. Keunggulan utama dari model ILBD terletak pada kemampuannya mentransformasi data mentah perkembangan siswa menjadi panduan navigasi bagi kepala sekolah untuk menentukan intervensi kurikulum, alokasi sumber daya pendampingan, hingga kebijakan evaluasi belajar anak secara obyektif, terukur, dan kontekstual sesuai kearifan lokal Aceh.
Membahas fokus utama dalam kajian disertasinya, Fadhillah menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam tata kelola sekolah alam inklusi adalah menyatukan persepsi antara guru umum, GPK, dan kepala sekolah agar setiap kebijakan akademik berdasar pada rekam jejak data anak, bukan sekadar asumsi. Hambatan koordinasi tersebut dapat dirumuskan solusinya berkat arahan metodologis serta bimbingan mendalam dari Prof. Dr. Andi Kristanto, S.Pd., M.Pd. dan Dr. Amrozi Khamidi, S.Pd., M.Pd. Menurut Fadhillah, kepemimpinan instruksional yang tangguh adalah kunci utama agar model pembelajaran berbasis data ini dapat berjalan konsisten dan berkelanjutan.
Hasil penelitian doktoral ini menjanjikan dampak strategis bagi pembaruan kebijakan pendidikan inklusif di tingkat daerah maupun nasional. Model ILBD yang dikembangkan dapat dijadikan acuan standar operasional bagi dinas pendidikan dalam membina kepala sekolah dasar, khususnya dalam mengelola sekolah inklusi berkonsep alam. Penerapan model ini juga berpotensi memberikan solusi praktis bagi industri pendidikan dan masyarakat dalam menciptakan ekosistem sekolah yang akuntabel, ramah anak berkebutuhan khusus, serta berbasis bukti ilmiah.
Riset proposal disertasi ini menjadi bukti nyata komitmen FIP UNESA dalam melahirkan pemikiran akademis doktor yang berdampak langsung bagi kemajuan pendidikan di seluruh pelosok nusantara. Ke depan, Fadhillah berharap model Inclusive Learning Based Data ini dapat diimplementasikan secara luas di Provinsi Aceh serta direplikasi oleh berbagai sekolah dasar inklusi di Indonesia. Langkah inovatif ini mempertegas pesan bahwa kepemimpinan berbasis data adalah fondasi utama dalam mewujudkan keadilan dan kualitas pendidikan inklusif bagi masa depan bangsa.
