Pendidikan Dasar FIP UNESA Adakan Internasional Guest Lecture

fip.unesa.ac.id, SURABAYA- Prodi Pendidikan Dasar menyelenggarakan Kuliah Umum Internasional dengan tajuk “Elementary Education Across Nations” di Gedung CPD,  lantai 9 pada Jum’at, 10 Maret 2023 lalu.

Acara tersebut dimoderatori oleh dosen Pendidikan Dasar Ulhaq Zuhdi, S.Pd., M.Pd dengan pemateri dari berbagai negara.

Pemateri yang dimaksudkan adalah Ricky Setiawan, S.Pd.SD., M.Ed. dari Indonesia, Ahmed Wisam dari Palestina, Hagar Ali Marzouk Ibrahim dari Mesir, dan Baptiste Ansé dari Prancis dengan materi implementasi kurikulum dari negara masing-masing.

Ricky Setiawan menjelaskan mengenai Kurikulum Merdeka yang tahun lalu mulai diterapkan di Indonesia. Mekanisme Kurikulum Merdeka yang membebaskan siswa memilih apa yang diminatinya dalam pembelajaran. Belajar  mengajar di Indonesia, menggunakan sistem wajib belajar 12 tahun di Indonesia.

Menurut Ahmed Wisam sistem pendidikan di Indonesia dan di Palestina hampir sama karena sesama negara muslim.

Begitu pula dalam sistem pendidikan di Mesir, Hagar Ali Marzouk Ibrahim menuturkan bahwa di Mesir juga terdapat sistem pesantren seperti di Indonesia. Hagar menjelaskan bahwa ada beberapa jenis sekolah di Mesir, terdapat Government Schools yaitu Arabic Schools dan Experimental Language Schools, adapun Private Schools yang terdiri dari Ordinary Schools, Language Schools, Religious Schools, dan International Schools. Terdapat pula sistem Al-Azhar di Mesir, yang menekankan pada edukasi keagamaan khususnya Islam. Namun di Mesir hanya diterapkan sistem wajib belajar selama 9 tahun akademik antara usia 4-14 tahun. Selain itu, semua tingkat pendidikan gratis di sekolah-sekolah yang dikelola pemerintah.

Namun berbeda dengan di Perancis, menurut Baptiste Ansé di sana tidak terdapat kurikulum yang secara resmi diterapkan dari pemerintah atau dinas pendidikan setempat. Di Prancis tidak terdapat kelas religion wajib, dikarenakan sekitar 40% penduduknya menganut kepercayaan atheisme. Di Perancis pula tidak terdapat seragam wajib seperti di Indonesia, mereka juga dilarang memakai handphone di kelas.

Dalam sesi wawancara Hagar, mengatakan perbedaan Pendidikan di Indonesia dengan di mesir membuat ia menjadi lebih independen dan lebih interaktif.

Penulis : Ria dan Nelly