Kuliah Tamu S3 Pendidikan Inklusi Inclusive Education: Ways Forward

fip.unesa.ac.id Surabaya — Program Studi S3 Pendidikan Inklusi Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) mengadakan kuliah tamu dengan tema Inclusive Education: Ways Forward pada Jumat, 6 Februari 2026 di Auditorium O1 FIP UNESA. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber internasional, yaitu Prof. David Evans, Professor of Special Education dari Sydney School of Education and Social Work, serta Dr. Jia Ying Neoh, Senior Lecturer dari Faculty of Arts and Social Sciences, University of Sydney.

Acara diawali dengan sambutan Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya, Prof. Dr. Mochamad Nursalim, M.Si., dan dilanjutkan sambutan Koordinator Program Doktor Pendidikan Inklusi, Prof. Dr. Endang Pudjiastuti Sartinah, M.Pd. Kuliah tamu ini membahas tantangan serta arah pengembangan pendidikan inklusif dalam konteks global dan lokal.

Dalam acara ini Prof. David dan Dr. Ying menyampaikan bahwa tantangan utama pendidikan inklusif secara global masih berkaitan dengan sikap dan pola pikir. Pendidikan inklusif menuntut keyakinan bahwa pendidikan berkualitas dapat diberikan kepada seluruh peserta didik. Proses pendidikan juga dipahami sebagai proses yang membutuhkan waktu serta berada dalam negosiasi yang berkelanjutan, sehingga tidak selalu menghasilkan dampak secara cepat.

Selain itu, dijelaskan bahwa resistensi terhadap pendidikan inklusif merupakan isu global. Pendidikan yang bersifat memberdayakan, termasuk melalui penguatan literasi, keterampilan teknologi dan kemampuan berpikir kritis, kerap menimbulkan ketidaknyamanan di tingkat institusi maupun masyarakat. Tekanan terhadap tuntutan hasil yang instan juga menjadi salah satu faktor yang memperkuat resistensi tersebut.

Terkait aktor kunci dalam keberhasilan pendidikan inklusif, guru dipandang sebagai agen perubahan utama karena praktik pendidikan inklusif berlangsung di ruang kelas. Namun demikian, peserta didik tetap menjadi pusat dari seluruh proses pembelajaran. Keberhasilan pendidikan inklusif memerlukan kolaborasi antara guru, peserta didik, serta lingkungan sosial. Dalam diskusi juga ditegaskan pentingnya peran keluarga. Orang tua dan keluarga tidak dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai advokat bagi anak dalam kelancaran pendidikan inklusif. Keterlibatan keluarga berperan dalam menyuarakan kebutuhan anak, mendukung proses belajar, serta membangun komunikasi yang berkelanjutan dengan instansi dan pendidik.

Dalam pembahasan strategi peningkatan pemahaman guru terhadap keberagaman peserta didik, Prof. David  menyampaikan bahwa tidak terdapat satu pendekatan terbaik yang berlaku untuk semua konteks. Berdasarkan pemahamannya terhadap sejarah pemikiran Ki Hadjar Dewantara, ia menegaskan bahwa nilai-nilai pendidikan yang telah diterapkan Ki Hadjar pada dasarnya selaras dengan prinsip pendidikan inklusif. Pendidikan dipandang sebagai proses yang memanusiakan, memberi ruang bagi setiap peserta didik untuk belajar dengan nyaman, serta memungkinkan pembelajaran berlangsung di mana pun sesuai dengan konteks dan kebutuhan peserta didik.

Penulis: Moh. Danar Zila S. (BK)