fip.unesa.ac.id., Surabaya – Universitas Negeri Surabaya (Unesa), khususnya Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), kembali menempatkan diri sebagai garda terdepan dalam mewujudkan berkurangnya kesenjangan dalam pendidikan khususnya untuk mahasiswa disabilitas. Kunci utama inklusivitas terletak pada kesadaran seluruh mahasiswa untuk saling membantu dan berjalan beriringan.
Seringkali hambatan terbesar bagi mahasiswa disabilitas bukanlah akses yang sulit atau platform digital yang rumit, tetapi sikap acuh tak acuh dari lingkungan sekitarnya. Implementasi SDGs ke-10 di FIP Unesa menuntut kita untuk menyadari bahwa inklusivitas bukan hanya tugas dosen atau teman saja, melainkan seluruh elemen masyarakat kampus. Saat mahasiswa membantu membacakan visual di papan tulis bagi rekan tunanetra, atau memberi arah pada teman disabilitas, di situlah kesenjangan akan pudar.
Unesa telah memberikan fasilitas terbaik, namun fasilitas tersebut akan mati tanpa adanya semangat saling membantu mahasiswanya. Di FIP, khususnya di jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB), diajarkan bahwa perbedaan adalah kenormalan. Budaya saling bantu ini seharusnya menjadi identitas setiap mahasiswa FIP.
Melalui langkah kecil seperti menawarkan bantuan pendampingan atau sekadar memastikan jalur guiding block tidak terhalang, kita sedang mempraktekkan poin utama SDGs ke-10. Tidak ada mahasiswa yang tertinggal karena setiap individu memiliki peran untuk saling bantu.
Membantu teman disabilitas adalah bentuk pemenuhan hak mereka untuk mendapatkan akses yang setara. Keberagaman di Unesa bukan untuk membedakan, melainkan menyatukan.
Penulis: Rinjani Risna Arum (MP)
Editor: Dede Rahayu Adiningtyas (PGSD)