Peran Strategis Mahasiswa FIP dalam Mewujudkan Generasi Sehat dan Sejahtera 

fip.unesa.ac.id SURABAYA – Dalam diskursus Sustainable Development Goals (SDG), tujuan ketiga yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera seringkali dianggap sebagai ranah mutlak bagi tenaga medis atau praktisi kesehatan saja. Namun, jika kita melihat lebih dalam ke ruang lingkup Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), SDG 3 sebenarnya memiliki akar yang sangat kuat dalam setiap proses pembelajaran. Kesehatan pada hakikatnya bukan hanya soal bebas dari penyakit fisik, melainkan sebuah kesejahteraan paripurna yang mencakup aspek mental dan sosial. Di sinilah letak peran strategis mahasiswa FIP sebagai insan pendidikan, karena pendidikan dan kesehatan adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. 

Sangat sulit membayangkan seorang siswa bisa menyerap pelajaran dengan optimal jika ia harus berangkat sekolah dalam kondisi malnutrisi atau sakit. Begitu pula sebaliknya, mustahil bagi seorang guru untuk bisa mengajar dengan sepenuh hati jika ia sendiri sedang mengalami burnout dan tekanan mental yang hebat. Bagi mahasiswa FIP mewujudkan SDG 3 berarti memikul tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa lingkungan sekolah bertransformasi menjadi ekosistem yang menyehatkan bagi seluruh warga sekolah.

Implementasi nyata di lingkungan FIP dapat terlihat dari berbagai lini fokus utama. Mahasiswa calon guru di program studi PGSD dan PGPAUD, misalnya, berperan sebagai garda terdepan dalam menanamkan Literasi Kesehatan sejak dini melalui pembiasaan hidup bersih dan sehat. Sementara itu, isu kesehatan mental di sekolah seperti perundungan (bullying) dan kecemasan akademik menjadi tantangan nyata yang menempatkan peran mahasiswa Bimbingan dan Konseling (BK) sebagai elemen krusial dalam menekan angka gangguan mental di kalangan remaja. Tak lupa, melalui Pendidikan Khusus (PLB), inklusivitas menjadi prioritas untuk memastikan bahwa kesejahteraan dan layanan kesehatan menjangkau mereka yang memiliki kebutuhan khusus tanpa terkecuali.

Namun, di tengah upaya mewujudkan hal tersebut, tantangan internal bagi mahasiswa FIP hari ini tidak bisa diabaikan. Mahasiswa FIP dituntut untuk menjadi refleksi dari SDG 3 itu sendiri, meskipun kenyataannya padatnya jadwal perkuliahan, tugas observasi lapangan, hingga tuntutan skripsi seringkali membuat mereka mengabaikan aspek kesejahteraan diri sendiri. Padahal, seorang pendidik yang sehat adalah inspirasi terbaik bagi murid-muridnya. Oleh karena itu, mewujudkan kesejahteraan di lingkup fakultas harus dimulai dari hal sederhana, seperti menciptakan ruang diskusi yang suportif, menjaga pola hidup seimbang di tengah gempuran tugas, dan keberanian untuk mencari bantuan profesional jika kesehatan mental mulai terganggu.

Sebagai kesimpulan, SDG 3 bukan hanya tentang koridor rumah sakit dan tumpukan obat-obatan. Di lingkungan FIP, SDG 3 adalah tentang membangun ketahanan mental siswa, menciptakan kurikulum yang tidak memicu stres berlebih, dan memastikan setiap anak Indonesia tumbuh di lingkungan sekolah yang aman serta menyejahterakan. Kita harus senantiasa mengingat bahwa tugas besar insan pendidikan bukan hanya sekedar mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga menyehatkan generasi penerus. Sebab pada akhirnya, pendidikan yang berkualitas hanya bisa berdiri tegak dan kokoh di atas fondasi manusia-manusia yang sehat secara lahir maupun batin.

Penulis: Dyah Ayu Hardiyanti (TP)

Editor: Khesya (TP)

Dokumentasi: kampusedu