fip.unesa.ac.id, SURABAYA – Perkembangan teknologi yang semakin canggih memungkinkan mahasiswa menyelesaikan tugas dengan cepat melalui pemanfaatan Artificial Intelligence (AI). Di sisi lain, maraknya jasa joki tugas turut menawarkan kemudahan instan bagi mahasiswa. Fenomena ini menjadi tantangan tersendiri bagi perguruan tinggi dalam membangun Zona Integritas, khususnya dalam menegakkan prinsip kejujuran akademik.
Kajian mengenai penggunaan AI oleh mahasiswa menunjukkan bahwa teknologi tersebut kerap dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi serta mempercepat penyelesaian tugas akademik. Tekanan tenggat waktu yang mendesak sering kali menjadi alasan utama mahasiswa memanfaatkan bantuan AI. Namun demikian, tidak sedikit yang sekadar menyalin dan menempel (copy-paste) hasil keluaran AI tanpa memahami atau mengkaji substansinya, sehingga tidak benar-benar menguasai materi yang disajikan. Berbeda halnya dengan mahasiswa yang menggunakan jasa joki tugas. Mereka cenderung memanfaatkan layanan tersebut ketika tenggat waktu telah dekat dengan harapan memperoleh hasil terbaik secara instan. Dengan biaya relatif terjangkau, tugas dapat diselesaikan lengkap dengan jaminan revisi. Praktis, tetapi minim proses pembelajaran yang bermakna.
Dampak dari kebiasaan tersebut bersifat jangka panjang. Ketika mahasiswa terbiasa mengandalkan AI maupun jasa joki tanpa melalui proses belajar yang memadai, sesungguhnya mereka merugikan diri sendiri. Nilai akademik yang diperoleh mungkin memuaskan, tetapi kompetensi yang diharapkan belum tentu terbentuk. Akibatnya, lulusan berpotensi memasuki dunia kerja tanpa keterampilan yang seharusnya dimiliki. Sebagai mahasiswa yang cerdas, berintegritas, dan berkarakter unggul, ada beberapa langkah yang perlu kita lakukan untuk memberantas hal itu :
- Menumbuhkan kesadaran bahwa perkuliahan bukan semata-mata tentang capaian nilai, melainkan proses pembelajaran yang membentuk kompetensi dan karakter. Gelar sarjana tidak akan bermakna tanpa penguasaan ilmu yang memadai.
- Memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab, yakni sebagai sarana untuk membaca, memahami, dan mengolah informasi secara kritis, bukan sekadar menyalin hasil.
- Biasakan diri kita untuk malu terhadap praktik kecurangan akademik, termasuk tindakan copy-paste tanpa sumber yang jelas maupun penggunaan jasa joki tugas.
Komitmen terhadap ketiga langkah tersebut bukan sekadar upaya menjaga citra akademik, melainkan bentuk nyata dalam membangun kompetensi diri. Tanpa kesadaran akan pentingnya proses belajar, pemanfaatan teknologi secara bijak, dan penolakan terhadap praktik kecurangan akademik, mahasiswa berisiko kehilangan kesempatan untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta tanggung jawab profesional. Karena sejatinya teknologi digital diibaratkan sebagai pisau bermata dua : mampu memberikan manfaat, namun juga berpotensi menimbulkan dampak negatif. Semua bergantung pada cara dan tanggung jawab penggunanya.
Mari bersama-sama membangun Zona Integritas dimulai dari langkah sederhana, yakni menjunjung tinggi kejujuran dalam setiap proses perkuliahan. Wujudkan lingkungan kampus yang saling mendukung, mengingatkan, dan menguatkan dalam menegakkan nilai-nilai integritas. Dengan membiasakan sikap jujur dan bertanggung jawab, kita tidak hanya menjaga marwah akademik, tetapi juga menyiapkan diri menjadi lulusan yang kompeten, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Penulis: Rinjani Risna
Editor : Chantika Toti Yuliandani (PGSD)
Dokumentasi: Lina Nur Laili (PLB)