fip.unesa.ac.id SURABAYA — Sidang promosi doktor Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (FIP UNESA) kembali mengukuhkan satu nama baru dalam bidang Teknologi Pendidikan. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin, 23 Februari 2026, yang bertempat di Ruang Sidang FIP, Gedung O1 Lantai 2. Pada sidang tersebut Promovendus mempresentasikan disertasinya dengan judul “Pengembangan Online Project Collaborative Learning (OPCL) untuk Meningkatkan Self-Regulated Learning dan Creativity Mahasiswa Teknologi Pendidikan Universitas Palangka Raya” resmi dinyatakan lulus dengan hasil memuaskan.
Sejak awal pemaparan, peneliti menegaskan bahwa OPCL merupakan model pembelajaran yang dirancang khusus untuk mahasiswa, dengan pendekatan kolaboratif berbasis proyek yang sepenuhnya dilakukan secara daring. Tidak ada sesi tatap muka. Seluruh proses pembelajaran berlangsung melalui platform digital, sementara ini memanfaatkan Google Classroom karena Learning Management System (LMS) institusi masih dalam tahap pengembangan. Ke depan, model ini diharapkan terintegrasi penuh dalam LMS universitas agar lebih mudah diakses dosen dan tidak terbatas pada satu platform.
Pertanyaan kritis langsung mengemuka dari Prof. Dr. I. Nyoman S Degeng, M.Pd., yang menyoroti keistimewaan model tersebut. Peneliti menjelaskan bahwa dalam uji coba terbatas di Universitas Palangkaraya, OPCL terbukti mampu meningkatkan kreativitas mahasiswa. Model ini mendorong mahasiswa untuk membangun pengetahuan secara mandiri, berkolaborasi secara organik, serta memaksimalkan seluruh potensi kognitif melalui ekosistem digital.
Namun, sidang tidak berhenti pada pujian. Dr. Hari Sugiharto Setyaedhi. M.Si., menantang sisi lemahnya. Di era kecerdasan buatan, penggunaan AI di kalangan mahasiswa dinilai berpotensi menjadi pedang bermata dua. Ketergantungan pada AI dapat menggerus proses berpikir kreatif. Peneliti menegaskan bahwa AI tidak dilarang, tetapi perlu diarahkan sebagai alat bantu, bukan pusat proses belajar. Tantangan lain yang diangkat adalah efektivitas model jika diterapkan di universitas lain. Hingga kini, penelitian masih terbatas pada Universitas Palangkaraya, sehingga diperlukan uji coba dengan sampel lebih luas dari berbagai perguruan tinggi untuk menguji generalisasinya.
Masukan juga datang dari Dr. H. Andi Mariono, M.Pd., yang menyoroti empat produk utama yang dihasilkan, yaitu buku model, perangkat pembelajaran, bahan ajar, dan rancangan pembelajaran. Keempatnya dirancang sebagai satu kesatuan sistem agar dosen dan mahasiswa dapat memahami sekaligus mengimplementasikan OPCL secara komprehensif.

Prof. Dr. Mustaji, M.Pd., menegaskan bahwa kekuatan utama penelitian ini terletak pada produknya. Buku model menjadi panduan operasional yang menjelaskan filosofi, sintaks, hingga implementasi teknis OPCL. Sasaran utamanya adalah memudahkan dosen dan mahasiswa, khususnya di Universitas Palangkaraya, dalam menerapkan model pembelajaran berbasis proyek kolaboratif secara daring.
Prof. Dr. Mochamad Nursalim, M.Si., dalam pengantarnya menyapa keluarga dan audiens yang hadir, sembari mengingatkan bahwa setiap karya akademik selalu memiliki ruang penyempurnaan. Senada dengan itu, Dr. Fajar Arianto, S.Pd., M.Pd., menekankan perlunya penajaman prinsip-prinsip pembelajaran agar landasan teoritis model semakin kokoh.
Sementara itu, Prof. Dr. Siti Masitoh, M.Pd. menyoroti dimensi kolaboratif sebagai kekuatan utama model. Menurutnya, dalam OPCL mahasiswa benar-benar dituntut mencari dan membangun pengetahuan sendiri secara organik. Karakteristik mahasiswa yang telah terbiasa dengan pendekatan tertentu di mata kuliah sebelumnya menjadi modal awal yang mendukung keberhasilan kolaborasi daring. Infrastruktur universitas juga disebut sebagai faktor kunci yang tidak dapat diabaikan dalam keberlanjutan implementasi model ini.
Sidang berakhir dengan momen yang penuh haru. Promovendus Pradana Din Permadi, M.Pd.m dinyatakan lulus dalam sidang disertasi dan ditetapkan sebagai lulusan doktor ke-156. “Mulai saat ini berhak menyandang gelar Doktor di bidang Teknologi Pendidikan,” ujar Prof. Dr. Mochamad Nursalim, M.Si., saat membacakan keputusan resmi. Surat kelulusan kemudian diserahkan secara simbolis.
Model OPCL kini tidak hanya menjadi karya ilmiah, tetapi juga tawaran solusi di tengah derasnya arus digitalisasi pendidikan. Tantangannya jelas: memastikan kolaborasi dan kreativitas tetap menjadi pusat pembelajaran, bahkan ketika teknologi termasuk AI semakin mendominasi ruang kelas.
Penulis: Nabila Robina (PLB), Yesi Seha (TP)
Dokumentasi: Yesi Seha (TP)
Editor: Lina Nur Laili (PLB)