fip.unesa.ac.id, SURABAYA—Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Surabaya menggelar Kuliah Umum bertema “Life and Working in Different Cultures” dengan menghadirkan Dekan FIP Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof. Dr. Abdul Saman, M.Si., Kons., sebagai narasumber. Kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) ini berlangsung pada Senin, 10 November 2025, di Auditorium O1 Lt. 2 FIP UNESA.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Abdul Saman membahas konsep Cultural Intelligence (CQ) atau Kecerdasan Budaya yang pertama kali diperkenalkan oleh Professor Christopher Early dan Soon Ang pada tahun 2003. CQ dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri ketika berada dalam lingkungan budaya yang berbeda. “Kecerdasan budaya bukan sekadar tahu tentang budaya lain, tetapi bagaimana kita mampu memahami, menafsirkan, dan menyesuaikan perilaku kita di tengah perbedaan,” ujarnya.
Konsep CQ berakar dari kecerdasan intelektual (IQ) namun berkembang menjadi kecakapan adaptif dalam konteks sosial dan lintas budaya. Terdapat tiga komponen utama dalam Cultural Intelligence yaitu Head, Body, dan Heart.
- Head merujuk pada pengetahuan dan kesadaran bahwa seseorang membutuhkan kemampuan adaptasi budaya, yang diperoleh melalui observasi dan riset.
- Body berkaitan dengan bagaimana pengetahuan tersebut diwujudkan dalam tindakan nyata. Aspek ini menjadi indikator yang paling mudah dilihat oleh lingkungan sekitar.
- Heart menjadi landasan keyakinan diri untuk berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan budaya baru.

“Ketika seseorang memiliki keseimbangan antara Head, Body, dan Heart, maka ia mampu memahami konteks budaya tanpa terjebak pada stereotip,” jelasnya. Dengan CQ yang baik, seseorang dapat menyesuaikan perilaku secara bijak dalam menghadapi dinamika budaya yang beragam.
Selain itu, Kecerdasan Budaya juga memberikan manfaat besar dalam dunia kerja dan kehidupan sosial. Di antaranya membantu individu bekerja lebih efektif dalam tim yang multikultural, memahami budaya organisasi, hingga mendukung keberhasilan penugasan internasional. “Profesional dengan Cultural Intelligence yang tinggi cenderung lebih mudah beradaptasi, membangun hubungan, dan menjadi pemimpin yang inklusif,” tambahnya.
Kecerdasan Budaya juga memiliki keterkaitan erat dengan Emotional Intelligence (EQ). Namun, CQ berada satu langkah lebih maju karena menuntut pemahaman terhadap faktor budaya yang memengaruhi emosi dan perilaku seseorang. “EQ membuat kita memahami perasaan orang lain, tetapi CQ membuat kita memahami mengapa mereka merasa demikian,” ungkapnya menutup sesi kuliah umum.
Penulis: Yesi Seha (TP)
Editor: Nelly Najwa (PGSD)
Dokumentasi: Viona (BK)