fip.unesa.ac.id, Surabaya – Di tengah ambisi global untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), sektor pendidikan tinggi memegang peran krusial dalam mewujudkan “berkurangnya kesenjangan”. Salah satu tantangan nyata di era digital ini bukan lagi sekadar akses ke bangku perkuliahan, melainkan bagaimana sistem pendidikan memastikan bahwa tidak ada satu pun mahasiswa yang tertinggal akibat hambatan aksesibilitas digital.
Sebagai fakultas yang menaungi program studi Pendidikan Luar Biasa (PLB), FIP Unesa telah lama menjadi “laboratorium hidup” bagi implementasi aksesibilitas, baik secara fisik maupun digital. Upaya ini menjadi bukti bahwa universitas memiliki peran sentral dalam memutus rantai kesenjangan sosial melalui pendidikan yang setara.
Implementasi SDGs ke-10 di lingkungan FIP Unesa terlihat dari penyediaan fasilitas yang dirancang untuk mengakomodasi mahasiswanya. Unesa khususnya FIP telah mengintegrasikan berbagai sarana pendukung yang memungkinkan mahasiswa disabilitas untuk bergerak dan belajar secara mandiri.
Aksesibilitas fisik yang terintegrasi, mulai dari guiding block yang tertata dengan baik, hingga jalur landai (ramp) dengan kemiringan standar bagi pengguna kursi roda. Pendampingan bagi mahasiswa disabilitas, mulai dari proses seleksi masuk hingga dukungan teknologi asistif dalam perkuliahan juga dipastikan.
Tidak hanya itu, ketersediaan toilet aksesibel yang dilengkapi dengan grab bar (pegangan tangan) dan ruang yang cukup luas memastikan kenyamanan dan privasi bagi mahasiswa penyandang disabilitas fisik. Di setiap depan pintu ruang kelas dan ruangan fungsional lainnya, sudah terpasang papan nama ruangan yang dilengkapi dengan Huruf Braille yang memungkinkan mahasiswa tunanetra untuk mengetahui lokasi kelas secara mandiri tanpa harus selalu bergantung pada bantuan orang lain.
Dengan itu, apa yang dilakukan FIP Unesa sejalan dengan target 10.2 dari SDGs, yaitu memberdayakan dan mempromosikan inklusi sosial bagi semua orang. Dengan menyediakan fasilitas fisik yang memadai, kampus secara otomatis mengurangi biaya sosial dan hambatan psikologis bagi mahasiswa disabilitas untuk berprestasi
FIP Unesa menunjukkan bahwa pengurangan kesenjangan sosial dalam SDGs ke-10 dapat dimulai dari hal yang paling mendasar. Memastikan setiap mahasiswa dapat melangkah dan belajar di ruang kelas dengan kedudukan yang sama. Melalui inklusivitas, kita tidak hanya mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga menciptakan lingkungan yang lebih adil dan setara bagi seluruh anak bangsa.
Penulis: Rinjani Risna Arum (MP)
Editor: Dede Rahayu Adiningtyas (PGSD)