fip.unesa.ac.id, SURABAYA — Inklusivitas dalam pendidikan tidak lagi sekadar menjadi pembicaraan normatif, tetapi merupakan kebutuhan mendesak di tengah kenyataan kesenjangan yang masih ada. Di banyak tempat, akses terhadap pendidikan yang baik masih menjadi hak istimewa, bukan hak yang benar-benar dirasakan oleh semua individu.
Namun, pertanyaannya adalah: apakah pendidikan yang kita jalani saat ini benar-benar terbuka untuk semua?
Fakta yang ada di lapangan menunjukkan bahwa sejumlah siswa, terutama yang berasal dari kelompok penyandang disabilitas, daerah terpencil, atau latar belakang ekonomi yang rendah, masih mengalami kendala struktural.
Hal ini meliputi minimnya fasilitas, kurangnya guru yang terampil, serta stigma sosial yang masih ada. Apabila keadaan ini dibiarkan, maka pendidikan justru bisa memperbesar kesenjangan, bukan menyatukannya.
Di tengah berbagai kesulitan tersebut, teknologi muncul sebagai kesempatan dan alat perubahan. Platform pendidikan digital, aplikasi yang didorong oleh kecerdasan buatan, serta alat bantu kini memberikan akses yang lebih besar bagi kelompok yang sebelumnya terabaikan.
Contohnya adalah pemanfaatan pembaca layar untuk penyandang disabilitas visual, teks otomatis untuk penyandang disabilitas pendengaran, serta sistem manajemen pembelajaran yang memungkinkan pendidikan jarak jauh tanpa batasan wilayah.
Namun, harapan terhadap teknologi tidak boleh mengabaikan kenyataan lainnya: kesenjangan digital. Penguasaan internet yang tidak sebanding, kurangnya perangkat, serta tingkat literasi digital yang rendah justru berpotensi menciptakan bentuk ketidakadilan baru.
Ini berarti, teknologi bukanlah jawaban instan, ia hanya akan berguna jika didukung oleh kebijakan yang menyeluruh dan pengaturan sumber daya yang merata.
Di sinilah fungsi pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat sangat penting. Pendanaan untuk infrastruktur digital harus diimbangi dengan pelatihan bagi guru dalam metode pengajaran yang inklusif.
Kurikulum sebaiknya dirancang dengan fleksibilitas, sehingga bisa memenuhi berbagai kebutuhan siswa. Selain itu, cara pandang dalam pendidikan mesti berubah dari sekedar “memberikan akses” menjadi “menjamin arti penting pembelajaran bagi semua”.
Penulis : Nabila Robina (PLB)
Editor : Dede Rahayu Adiningtyas (PGSD)
Dokumentasi : Freepik