Memuat halaman...

FIP UNESA

Promovendus S3 Pendidikan Dasar UNESA Kembangkan Model Pembelajaran AGGA Berbasis Gurindam 12 untuk Tingkatkan Berpikir Kritis dan Komunikasi Anak Usia Dini

Senin, 27 Juli 2026

Promovendus S3 Pendidikan Dasar UNESA Kembangkan Model Pembelajaran AGGA Berbasis Gurindam 12 untuk Tingkatkan Berpikir Kritis dan Komunikasi Anak Usia Dini

fip.unesa.ac.id., Surabaya - Promovendus Program Doktor Pendidikan Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (S3 Dikdas FIP UNESA), Mohammad Fauziddin, menginovasikan model pembelajaran Apperception, Grouping, Game, and Appreciation (AGGA) sebagai model pembelajaran yang dirancang untuk menstimulasi kemampuan berpikir kritis dan komunikasi anak usia dini. Model tersebut dipaparkan dalam Ujian Terbuka Program Doktor pada Senin, 27 Juli 2026 bertempat di Auditorium FIP UNESA.


Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tantangan pembelajaran pada era Society 5.0 yang menuntut anak memiliki kemampuan berpikir kritis dan komunikasi sejak usia dini. Namun, berbagai temuan menunjukkan bahwa kemampuan tersebut masih belum berkembang secara optimal.


Proses pembelajaran di kelas masih didominasi guru, anak cenderung pasif, sementara pemanfaatan kearifan lokal sebagai bagian dari proses pembelajaran juga belum terintegrasi secara sistematis.
Berangkat dari kondisi tersebut, Mohammad Fauziddin mengembangkan Model AGGA yang memadukan pembelajaran kooperatif, permainan edukatif, dan kearifan lokal Melayu melalui Gurindam 12 karya Raja Ali Haji.


Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang hanya menjadikan budaya sebagai materi tambahan, model ini menempatkan nilai-nilai Gurindam 12 sebagai bagian dari sintaks pembelajaran sehingga menjadi fondasi dalam membangun pengalaman belajar anak.


Keunggulan utama model ini terletak pada tiga inovasi. Pertama, integrasi nilai budaya lokal ke dalam proses pembelajaran, bukan sekadar bahan ajar pelengkap. Kedua, transformasi permainan kompetitif menjadi permainan kolaboratif yang lebih sesuai dengan karakteristik anak usia dini.
Ketiga, pemberian apresiasi yang berorientasi pada proses melalui penghargaan diri (self-appreciation) dan penghargaan antarteman (peer appreciation), sehingga mendorong motivasi belajar sekaligus perkembangan sosial anak.


Temuan penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan komunikasi lebih tinggi dibandingkan kemampuan berpikir kritis. Hal tersebut sejalan dengan karakteristik perkembangan anak usia dini yang lebih mudah berkembang melalui aktivitas interaksi, bermain, dan ekspresi.


Penelitian juga menegaskan bahwa penggunaan kearifan lokal sebagai fondasi pembelajaran mampu memperkuat pengalaman belajar yang kontekstual sekaligus mendukung pelestarian budaya bangsa.
Melalui penelitian ini, Mohammad Fauziddin menawarkan Model Pembelajaran AGGA sebagai inovasi yang tidak hanya valid, praktis, dan efektif, tetapi juga mampu menjawab tantangan pendidikan abad ke-21 dengan mengintegrasikan pembelajaran kooperatif, permainan edukatif, dan kearifan lokal dalam satu kesatuan model pembelajaran.


Inovasi tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif bagi guru dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, serta karakter anak usia dini sekaligus melestarikan warisan budaya Indonesia.


Penulis: Dede Rahayu Adiningtyas (PGSD)

Share