fip.unesa.ac.id SURABAYA – Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) sukses menggelar seminar internasional bertajuk "Preparing Future School Counselors: Skills, Identity, and Inclusive Capabilities Growth". Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid di ruang auditorium lantai 2 gedung O1 FIP UNESA dan melalui Zoom Meeting pada Kamis, 04 Juni
Seminar ini diselenggarakan untuk mempersiapkan generasi konselor sekolah yang cakap secara teknis, memiliki kepekaan sosial, serta mampu beradaptasi dengan kebutuhan siswa yang beragam. Melalui perspektif internasional, mahasiswa diharapkan dapat memperluas wawasan di luar kurikulum nasional.
Pembicara pertama, Akmal Nazihah, M.Couns., M.Teach, Pejabat Pendidikan dari Kementerian Pendidikan Brunei Darussalam, membawakan materi bertema “Skills, Identity & Inclusive Competence Growth”. Ia memaparkan empat tantangan nyata konselor saat ini: tingginya permintaan layanan yang tak sebanding dengan jumlah tenaga ahli, perubahan sistem pendidikan, belum tersedianya dukungan terstruktur bagi siswa berkebutuhan khusus, serta belum terwujudnya inklusivitas penuh di institusi pendidikan.
Di Brunei, pemerintah menerapkan Program Pra-Vokasional (PVP) sebagai jalur alternatif bagi siswa berkebutuhan khusus, meski koordinasi antara konselor dan guru pendidikan khusus masih perlu ditingkatkan. Akmal juga membagikan studi kasus penanganan siswa "L" (16 tahun) yang mengalami kecemasan dan penurunan akademis. Ia mengatasinya lewat pendekatan Person-Centered yang dikombinasikan dengan Expressive Therapy. Terakhir, ia menekankan konsep Sustainable Counsellor, yaitu pentingnya konselor merawat diri sendiri untuk mencegah burnout.
Sesi kedua dilanjutkan oleh Emily Dowdeswell, Ph.D., Direktur di Cambridge Curiosity and Imagination. Ia memperkenalkan konsep Liberated Spaces of Learning atau ruang belajar yang membebaskan, di mana sistem pendidikan modern harus memberi ruang bagi anak untuk berimajinasi tanpa tekanan instruksi yang kaku.
Emily menawarkan pendekatan inovatif Art Scaping, sebuah metode yang menggabungkan seni, alam, dan ruang kreatif. Lewat metode ini, anak-anak menjadi ArtScapers yang mengeksplorasi lingkungan sekitar layaknya penjelajah dan seniman. Ia menekankan tiga kebebasan fundamental anak: berimajinasi dan bertanya, mengeksplorasi ide, serta bergerak bebas. Menurutnya, belajar sejati terjadi saat anak berani bertanya, saling membantu, dan tidak takut menghadapi kebingungan.
Seminar internasional ini menjadi wadah berharga bagi mahasiswa BK UNESA. Isu inklusivitas, kesehatan mental, dan pendekatan kreatif menjadi tiga pilar utama yang disorot sebagai bekal penting bagi calon konselor masa depan yang profesional dan empatik.
Penulis : Ghisa Maulina Ayudya Pramesti (PGSD)
Editor : Chantika Toti Yuliandani (PGSD)
