fip.unesa.ac.id, SURABAYA – Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menyelenggarakan International Webinar bertajuk “Understanding Deafblindness: Bridging Communication and Connection” pada Selasa, 20 Mei 2026 secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menjadi wadah akademik untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa, calon guru, praktisi pendidikan, serta masyarakat mengenai pentingnya pendidikan inklusif bagi individu dengan deafblindness atau hambatan penglihatan dan pendengaran secara bersamaan. Webinar ini juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4 tentang Quality Education dan SDGs poin 9 tentang Industry, Innovation, and Infrastructure melalui penguatan inovasi pendidikan inklusif, pengembangan strategi pembelajaran adaptif, serta pemanfaatan teknologi asistif bagi peserta didik dengan disabilitas.
Webinar internasional ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Weningsih dari Mitra Inspirasi Pendidikan Indonesia, Dr. Edna H. Jalotjot dari University of Southeastern Philippines (USeP), serta Khofidatur Rofiah, Ph.D. selaku Head of Undergraduate Special Education Program UNESA. Ketiga narasumber membahas deafblindness dari berbagai perspektif, mulai dari komunikasi, strategi pembelajaran, hingga kesiapan calon guru dalam mendukung pendidikan inklusif di Indonesia.
Pada sesi pertama, Weningsih menjelaskan bahwa komunikasi menjadi aspek paling penting dalam mendampingi anak dengan deafblindness. Menurutnya, komunikasi tidak dapat dibangun hanya melalui pembelajaran formal, tetapi harus dikembangkan melalui aktivitas sehari-hari yang bermakna dan interaksi yang responsif antara anak dengan lingkungan sekitarnya. Ia juga menekankan bahwa setiap anak memiliki cara komunikasi yang berbeda sehingga guru dan keluarga perlu memahami kebutuhan individual masing-masing peserta didik.
Dalam pemaparannya, Weningsih menjelaskan bahwa pendekatan pembelajaran bagi anak deafblind harus dilakukan secara fleksibel dan berorientasi pada kemampuan sensorik yang masih dapat difungsikan secara optimal. Ia menegaskan bahwa guru perlu membangun hubungan yang positif dan memahami karakteristik setiap anak agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara bermakna. “Komunikasi harus dikembangkan dari pengalaman yang bermakna, hubungan yang responsif, ada trust, dan interaksi yang alami,” jelasnya.
Selanjutnya, Dr. Edna H. Jalotjot memaparkan konsep deafblindness berdasarkan perspektif Nordic Definition. Ia menjelaskan bahwa deafblindness merupakan kombinasi hambatan penglihatan dan pendengaran yang berat sehingga kedua indera tersebut tidak dapat saling mengompensasi. Oleh karena itu, deafblindness dipandang sebagai kondisi disabilitas yang unik dan membutuhkan strategi pendidikan yang spesifik serta dukungan lingkungan yang inklusif.
Dr. Edna juga menjelaskan berbagai strategi pembelajaran yang dapat diterapkan kepada peserta didik deafblind, seperti penggunaan Individualized Educational Plan (IEP), tactile learning, pendekatan multisensori, assistive technology, serta penguatan rutinitas belajar yang konsisten. Menurutnya, pembelajaran bagi peserta didik deafblind tidak hanya bergantung pada guru, tetapi juga membutuhkan kolaborasi dengan keluarga, tenaga kesehatan, psikolog, terapis, dan komunitas. “The whole idea of inclusive education is everybody no child left behind,” ujarnya.
Selain membahas strategi pembelajaran, Dr. Edna turut memperkenalkan kampanye global “Let Me In” yang memperjuangkan akses pendidikan bagi anak-anak deafblind di seluruh dunia. Ia menyoroti bahwa peserta didik deafblind masih menjadi kelompok yang sangat rentan mengalami eksklusi pendidikan sehingga diperlukan kesadaran bersama untuk memastikan mereka memperoleh hak belajar yang setara dan berkualitas.
Pada sesi terakhir, Khofidatur Rofiah, Ph.D., memaparkan hasil penelitian sementara terkait kesiapan calon guru dalam mengajar peserta didik deafblind di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa meskipun Indonesia telah memiliki regulasi mengenai pendidikan inklusif dan hak penyandang disabilitas, implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan, khususnya dalam pembekalan calon guru terkait strategi pembelajaran dan komunikasi bagi peserta didik deafblind.
Khofidatur Rofiah, Ph.D., juga menyoroti bahwa masih banyak mahasiswa calon guru yang merasa ragu dan belum sepenuhnya siap mengajar peserta didik deafblind karena minimnya pengalaman praktik dan keterbatasan paparan mengenai deafblindness dalam kurikulum pendidikan guru. Menurutnya, sikap atau attitude guru menjadi faktor penting dalam keberhasilan pendidikan inklusif karena berkaitan dengan cara berpikir, memahami, dan mengambil keputusan dalam mendukung peserta didik dengan disabilitas. “Cara kita berpikir, cara kita merasakan sesuatu, dan cara kita kemudian memutuskan sesuatu itu penting sekali karena erat kaitannya dengan attitude,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penguatan kurikulum pendidikan guru agar isu deafblindness memperoleh perhatian yang lebih spesifik dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi. Selain itu, diperlukan pelatihan praktik langsung, kolaborasi dengan komunitas, serta penguatan sistem identifikasi nasional agar layanan pendidikan bagi peserta didik deafblind dapat berjalan lebih optimal dan inklusif.
Kegiatan webinar berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab antara narasumber dan peserta. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan mengenai strategi komunikasi, metode pembelajaran, hingga implementasi pendidikan inklusif bagi peserta didik deafblind di Indonesia. Melalui kegiatan ini, FIP UNESA diharapkan dapat terus berkontribusi dalam memperkuat pendidikan inklusif yang berkelanjutan serta melahirkan calon pendidik yang adaptif, empatik, dan siap mendukung seluruh peserta didik tanpa terkecuali.
Penulis: Mohammad Danar (BK)
Editor: Florencya Agatha (MP)