fip.unesa.ac.id, SURABAYA – Program Studi S-1 Pendidikan Luar Biasa (PLB) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (FIP Unesa) menyelenggarakan kuliah tamu dengan tema “Peningkatan Kapasitas Program Studi Pendidikan Luar Biasa Menuju Lulusan yang Unggul dan Kompetitif”. Kegiatan ini dilaksanakan bertepatan dengan peringatan Hari Kartini dan bertempat di Gedung O6 lantai 4 FIP UNESA.
Dalam sambutan Koordinator Program Studi S-1 PLB UNESA, Khofidotur Rofiah, M.Pd., Ph.D., menekankan bahwa kuliah tamu merupakan salah satu strategi penting dalam meningkatkan kapasitas program studi, terutama dalam menghasilkan lulusan yang adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja. Ia juga mendorong mahasiswa untuk tidak hanya berorientasi menjadi guru, tetapi mampu melihat dan memanfaatkan berbagai peluang karier sesuai kompetensi yang dimiliki, khususnya dalam bidang pendidikan inklusif yang berperan dalam membuka akses pendidikan yang setara bagi semua peserta didik.
Selanjutnya, Dekan FIP UNESA, Prof. Dr. Mochamad Nursalim, M.Si, secara resmi membuka kegiatan. Dalam sambutannya, Ia menyampaikan bahwa penguatan kualitas lulusan merupakan bagian strategis dalam mendukung akreditasi program studi dan institusi. “Bidang disabilitas dan pendidikan inklusif merupakan salah satu keunggulan UNESA yang perlu terus dikembangkan sebagai bentuk kontribusi nyata dalam menciptakan sistem pendidikan yang lebih adil, setara, dan inklusif,” pungkas Dekan FIP Unesa.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. Mohammad Efendi, M.Pd., M.Kes. Dalam pemaparannya, Ia menekankan bahwa lulusan PLB harus memiliki daya saing tinggi melalui keseimbangan antara hard skills dan soft skills. Menurutnya, kemampuan akademik perlu didukung dengan keterampilan komunikasi, kepercayaan diri, kreativitas, serta pengalaman langsung di lapangan agar lulusan mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat, khususnya dalam menangani keberagaman peserta didik.
Prof. Efendi juga menyoroti pentingnya perubahan pola pikir mahasiswa. Lulusan tidak lagi hanya berorientasi pada pertanyaan “bisa kerja apa”, tetapi harus mampu menjawab “apa yang bisa saya kerjakan”. Dengan demikian, mahasiswa didorong untuk menjadi individu yang produktif, inovatif, dan mampu menciptakan peluang kerja, termasuk dalam mengembangkan layanan pendidikan yang inklusif dan merata.
Lebih lanjut, Prof. Efendi menegaskan pentingnya inisiatif pribadi dalam pengembangan diri. “Selama masih memungkinkan, mahasiswa harus terus kreatif dalam mengembangkan diri serta aktif mencari pengalaman di luar perkuliahan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kampus tidak dapat sepenuhnya memenuhi seluruh kebutuhan pengembangan mahasiswa, sehingga kesiapan individu menjadi faktor utama dalam membentuk kompetensi yang unggul.
Dalam pemaparan materinya, beliau juga menjelaskan bahwa lulusan PLB memiliki peluang untuk menjadi pendidik yang berjiwa kewirausahaan maupun wirausahawan yang tetap berkontribusi dalam bidang pendidikan. Pendekatan ini dinilai relevan dalam menjawab tantangan meningkatnya pengangguran terdidik serta rendahnya daya saing lulusan, sekaligus membuka akses layanan pendidikan yang lebih luas dan inklusif di masyarakat.
Penting juga pengalaman praktik, seperti magang di dunia usaha dan industri, sebagai sarana untuk memahami realitas kerja secara langsung. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam membentuk kompetensi yang kontekstual, aplikatif, serta responsif terhadap kebutuhan masyarakat yang beragam.
Kegiatan ini diikuti oleh dosen serta mahasiswa PLB sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas akademik dan kesiapan lulusan dalam menghadapi tantangan global, sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals, khususnya Tujuan ke-10 tentang pengurangan kesenjangan.
Penulis: Moh. Danar Zila S. (BK)
Editor: Dede Rahayu Adinintyas (PGSD)