Guru Masa Depan, Gaya Hidup Berkelanjutan: Cerita Water Station di FIP

Di sepanjang koridor Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Surabaya (UNESA), pemandangan mahasiswa yang menjinjing botol minum plastik sekali pakai telah menjadi hal yang lumrah. Di tengah padatnya jadwal kuliah dan mobilitas tinggi antar gedung, kepraktisan botol plastik seringkali menjadi pilihan utama untuk melepas dahaga. Namun, di balik kemudahan yang tampak di permukaan, tersimpan beban lingkungan yang sangat besar yang harus ditanggung di masa depan.

Implementasi SDG 12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab menantang kita semua untuk mengulas secara kritis sebuah pertanyaan sederhana namun mendalam: seberapa banyak sampah plastik yang kita hasilkan secara kolektif hanya untuk memenuhi kebutuhan minum selama jeda perkuliahan? Menjawab tantangan ini tentu tidak cukup hanya dengan imbauan agar mahasiswa membawa tumbler, melainkan memerlukan langkah nyata berupa penyediaan infrastruktur pendukung yang memadai, yaitu Water Station atau Stasiun Pengisian Air Minum yang mudah diakses.

Pengadaan fasilitas Water Station gratis di lingkungan FIP UNESA hadir sebagai solusi konkret yang menawarkan manfaat ganda, baik dari sisi ekologi maupun ekonomi. Secara ekologis, keberadaan stasiun pengisian air ini menjadi senjata utama dalam memutus rantai produksi limbah plastik sekali pakai di area fakultas secara drastis. Dengan adanya titik pengisian ulang yang higienis, mahasiswa memiliki alasan kuat untuk benar-benar beralih dari penggunaan botol plastik ke wadah minum permanen. Sementara dari sisi ekonomi, akses air minum gratis ini secara langsung membantu mahasiswa dalam menghemat pengeluaran harian mereka. Di tengah dinamika biaya hidup perkuliahan, penghematan kecil dari biaya air minum dapat dialokasikan untuk kebutuhan akademik yang lebih mendesak, sekaligus mendidik mahasiswa untuk menerapkan pola konsumsi yang lebih efisien dan bertanggung jawab di tingkat mikro.

Dari sinilah peran Fakultas menjadi penting, sebagai naungan bagi mahasiswa sekaligus ruang pembentukan kebiasaan. FIP tidak hanya berbicara tentang teori keberlanjutan, tetapi juga membiasakan praktiknya dalam kehidupan sehari-hari. Kampus adalah ruang pembentukan karakter, dan fakultas hadir untuk memastikan kerealisasiannya. Kebiasaan memilih isi ulang dibanding menambah jumlah sampah botol plastik merupakan hasil dari pendidikan nilai yang kontekstual. Fakultas Ilmu Pendidikan sebagai tempat belajar calon pendidik dan tenaga kependidikan  perlu lebih dulu hidup dalam budaya yang bertanggung jawab dan berkesadaran dalam merawat lingkungan sebelum menjadi teladan bagi generasi penerus bangsa.

Namun, keberadaan fasilitas saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan kesadaran kolektif untuk merawat dan memanfaatkannya secara konsisten. Water station yang kini tersedia merupakan aset bersama warga fakultas. Oleh karena itu, setiap warga memiliki andil dalam menjaga kebersihan area isi ulang, menggunakan fasilitas secara tertib, serta meminimalisir penggunaan wadah sekali pakai. Perubahan yang nyata akan terasa ketika setiap individu mengambil peran, serta menjaga marwah lingkungan yang sebenarnya. 

Implementasi Water Station bukan sekadar penyediaan infrastruktur, melainkan sebuah transformasi gaya hidup. Dengan menjaga dan memanfaatkan fasilitas ini, warga FIP UNESA membuktikan bahwa sinergi antara kebijakan kampus dan kesadaran mahasiswa mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang hijau, hemat, dan berkelanjutan.

Water Station di FIP UNESA tidak hanya menghadirkan kemudahan, tetapi juga menegaskan praktik nyata SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang bertanggung jawab di lingkungan kampus. Setiap botol yang diisi ulang menjadi bentuk keputusan sadar untuk menekan limbah sekaligus membangun disiplin ekologis dalam keseharian akademik. Dengan demikian, fasilitas ini berfungsi sebagai pengingat bahwa keberlanjutan bukan konsep abstrak, melainkan kebiasaan yang dijalankan bersama.

Keberlanjutan pada akhirnya tidak berdiri pada infrastruktur semata, melainkan pada komitmen kolektif yang hidup di antara penggunanya. Ketika warga fakultas menjaga dan memanfaatkan fasilitas ini secara konsisten, mereka sedang menerjemahkan nilai SDG 12 ke dalam tindakan yang konkret dan terukur. Dari praktik sederhana inilah tumbuh budaya tanggung jawab lingkungan yang melampaui ruang kampus dan berlanjut dalam kehidupan sosial yang lebih luas.

Penulis: Dyah Ayu (TP), Zahira (PGSD), Yesi Seha (TP)

Editor: Chantika (PGSD)