fip.unesa.ac.id SURABAYA – Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (FIP UNESA) kembali menunjukkan komitmennya dalam memfasilitasi sinergi akademik lintas jenjang. Melalui kolaborasi strategis program studi S1 PGSD, S2 Pendidikan Dasar, dan S3 Pendidikan Dasar, FIP UNESA menggelar Seminar Nasional bertajuk “Akselerasi Pendidikan Inklusif Berbasis Digital: Sinergi Kebijakan, Riset, dan Praktik di Era Transformasi Pendidikan Dasar”.Acara yang berlangsung secara Hybrid pada Senin, 11 Mei 2026, ini dipusatkan di Gedung O1 Lantai 1, Kampus Lidah Wetan.
Seminar ini menjadi wadah untuk menyelaraskan kebijakan pemerintah, temuan riset terbaru, serta praktik lapangan guna menciptakan ekosistem pendidikan yang ramah bagi seluruh peserta didik di tengah pesatnya transformasi digital. Acara dibuka secara resmi oleh Dekan FIP UNESA, Prof. Dr. Mochamad Nursalim, M.Si. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi tinggi atas konsistensi program studi kependidikan dasar dalam mengawal isu-isu inklusivitas, serta menekankan bahwa kolaborasi antara akademisi dan praktisi adalah kunci utama dalam menghadapi tantangan pendidikan modern.

Seminar ini menghadirkan tiga pakar lintas sektoral sebagai narasumber utama:
1. Dr. Trina Fizzanty (Kepala Pusat Riset Pendidikan BRIN)
2. Dr. Tirto Adi, M.Pd. (Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo)
3. Prof. Dr. Minsih, M.Pd. (Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta)
Dr. Trina Fizzanty membuka diskusi dengan membedah tema “Pendidikan Inklusif dan Digitalisasi Pembelajaran di Indonesia”. Ia menekankan bahwa teknologi harus menjadi alat pemerataan akses, terutama bagi wilayah yang sulit dijangkau. “Tantangan utama kita bukan sekadar kecanggihan teknologi, tapi bagaimana memastikan seluruh lapisan masyarakat dapat mengakses digitalisasi secara merata. Inklusivitas digital bukan hanya soal ketersediaan perangkat, tapi soal aksesibilitas informasi dan alat belajar yang dapat dialami oleh setiap peserta didik tanpa terkecuali,” tegas Dr. Trina.
Dari sisi implementasi kebijakan daerah, Dr. Tirto Adi, M.Pd. memaparkan keberhasilan dan komitmen Kabupaten Sidoarjo dalam mewujudkan “Pendidikan Inklusif untuk Semua”. Di Sidoarjo, setiap jenjang pendidikan mulai dari KB hingga SMP diwajibkan menerima peserta didik penyandang disabilitas guna menghapus praktik diskriminasi di sekolah. Senada dengan hal tersebut, Prof. Dr. Minsih, M.Pd. memberikan perspektif mendalam mengenai hakikat transformasi digital. Beliau mengingatkan bahwa teknologi hanyalah sarana, sedangkan tujuan akhirnya adalah manusia.
“Ukuran kemajuan pendidikan bukan dilihat dari seberapa canggih teknologinya, tetapi seberapa banyak anak yang berhasil dirangkul olehnya. Transformasi digital harus membuka akses bagi mereka yang selama ini tertinggal, sehingga prinsip no child left behind benar-benar terwujud,” jelas Prof. Minsih.
Seminar nasional ini diharapkan mampu melahirkan rekomendasi nyata bagi para praktisi dan mahasiswa dari tiga jenjang pendidikan dasar (S1, S2, S3) agar lebih siap menghadapi tantangan global. Dengan terciptanya sinergi antara riset dari BRIN, kebijakan taktis dari Dinas Pendidikan, serta landasan pedagogis dari perguruan tinggi, FIP UNESA optimis bahwa akselerasi pendidikan inklusif di Indonesia akan berjalan lebih cepat, inklusif, dan tepat sasaran.
Penulis: Dyah Ayu Hardiyanti (TP)
Editor: Lina Nur laili (PLB)