Memuat halaman...

FIP UNESA

Diyah Yustiana Doktor Baru UNESA Ungkap Strategi Mencetak Lulusan SMK yang Siap Hadapi Dunia Kerja Modern

Selasa, 9 Juni 2026

Diyah Yustiana Doktor Baru UNESA Ungkap Strategi Mencetak Lulusan SMK yang Siap Hadapi Dunia Kerja Modern

fip.unesa.ac.id., SURABAYA – Program Studi S3 Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (FIP UNESA) menyelenggarakan Ujian Disertasi Terbuka dengan promovendus Diyah Yustiana yang mengangkat disertasi berjudul “Pengaruh Cognitive Apprenticeship dan Self-Efficacy terhadap Kemampuan Kolaborasi dan Pemecahan Masalah pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)”, pada Selasa, 9 Juni 2026 di Auditorium O1 Lantai 2 FIP UNESA.

Ujian disertasi terbuka ini dihadiri oleh tim promotor, ko-promotor, penguji internal, penguji eksternal, akademisi, mahasiswa pascasarjana, serta tamu undangan. Dalam kesempatan tersebut, Diyah Yustiana memaparkan hasil penelitiannya yang berfokus pada pengembangan kemampuan kolaborasi dan pemecahan masalah peserta didik SMK melalui penerapan model pembelajaran Cognitive Apprenticeship dan penguatan self-efficacy.

Dalam presentasinya, Diyah menjelaskan bahwa tantangan dunia kerja saat ini tidak hanya menuntut lulusan yang memiliki keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, bekerja sama dalam tim, serta menyelesaikan berbagai persoalan yang kompleks. Menurutnya, sekolah menengah kejuruan memiliki peran strategis dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan industri abad ke-21.

Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa model Cognitive Apprenticeship mampu membantu peserta didik memahami proses berpikir para ahli melalui pengalaman belajar yang autentik. Model ini terdiri atas beberapa tahapan penting, yaitu modeling, coaching, scaffolding, articulation, reflection, dan exploration. Tahapan-tahapan tersebut mendorong peserta didik untuk lebih aktif mengembangkan strategi berpikir, mengungkapkan alasan atas keputusan yang diambil, melakukan refleksi terhadap hasil kerja, hingga mengeksplorasi berbagai alternatif solusi dalam menyelesaikan masalah.

Selain itu, Diyah juga menyoroti pentingnya self-efficacy sebagai keyakinan individu terhadap kemampuannya sendiri. Ia menjelaskan bahwa peserta didik yang memiliki tingkat self-efficacy tinggi cenderung lebih percaya diri dalam berkolaborasi, berani menghadapi tantangan, serta lebih gigih dalam menyelesaikan tugas dan permasalahan yang dihadapi.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa Cognitive Apprenticeship dan self-efficacy memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan kolaborasi dan pemecahan masalah peserta didik SMK. Temuan ini dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini,” ungkap Diyah dalam pemaparannya.

Selama proses ujian berlangsung, para penguji memberikan berbagai masukan akademik yang konstruktif untuk memperkuat kualitas penelitian yang dilakukan. Suasana ujian berlangsung dengan penuh antusiasme. Para peserta yang hadir mengikuti jalannya pemaparan dan sesi tanya jawab secara aktif. Berbagai diskusi berkembang mengenai implementasi model pembelajaran inovatif dalam pendidikan kejuruan serta upaya meningkatkan kompetensi abad ke-21 bagi peserta didik.

Penulis : Nabila Robina (PLB)

Dokumentasi : Tim PIF

Editor : Dede Rahayu Adiningtyas (PGSD)

Share