Memuat halaman...

FIP UNESA

Dari Bangku Kuliah, FIP Wujudkan Guru yang Mengajar Tanpa Sekat Gender 

Rabu, 10 Juni 2026

Dari Bangku Kuliah, FIP Wujudkan Guru yang Mengajar Tanpa Sekat Gender 

fip.unesa.ac.id SURABAYA – “Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan pendidikan, Anda dapat mengubah dunia." Kutipan ikonik dari Nelson Mandela ini menegaskan bahwa sekolah dan kampus bukan sekadar tempat transfer ilmu, melainkan mesin perubahan peradaban. Namun, senjata ini hanya akan efektif jika akarnya, yaitu institusi pendidikan itu sendiri sudah bersih dari bias dan diskriminasi. Dalam konteks ini, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) memiliki peran yang sangat penting dalam mencetak pendidik yang tidak hanya kompeten secara pedagogis, tetapi juga memiliki kesadaran kritis untuk menciptakan ruang belajar yang inklusif dan setara bagi semua gender.

Mewujudkan SDGs 5 (Kesetaraan Gender) di lingkungan kampus pendidikan bukan hanya soal memenuhi kuota partisipasi perempuan, melainkan soal menciptakan budaya "Equal Voice". Di FIP, hal ini menjadi sangat krusial karena mahasiswa yang duduk di bangku perkuliahan hari ini adalah mereka yang akan membentuk pola pikir generasi masa depan di sekolah-sekolah.

Selama ini, dunia pendidikan dasar dan anak usia dini seringkali terjebak dalam stigma domestik yang kental dengan peran perempuan. Sebaliknya, posisi strategis dalam pengambilan kebijakan seringkali masih didominasi perspektif tertentu. Sebagai fakultas yang mengkaji ilmu kemanusiaan melalui dasar-dasar kependidikan, FIP harus berani mendobrak ini. Inklusi harus dimulai dari hal kecil: bagaimana diskusi di kelas dikelola, bagaimana pembagian peran dalam organisasi mahasiswa dilakukan, hingga bagaimana kurikulum yang kita pelajari tidak lagi mempertegas dikotomi peran laki-laki dan perempuan.

Inklusi tidak akan pernah terwujud tanpa adanya ruang aman. Pendidikan yang berkualitas mustahil tercapai jika mahasiswa masih merasa cemas akan diskriminasi atau ancaman kekerasan seksual. Kehadiran ruang aman memastikan bahwa setiap mahasiswa, tanpa memandang gender, memiliki hak yang sama untuk berpendapat, berprestasi, dan berekspresi tanpa rasa takut. Mahasiswa yang masih dihantui kekhawatiran akan diskriminasi atau ancaman kekerasan seksual tidak akan mampu belajar secara optimal, seberapa pun baik kurikulum yang tersedia.

Jika seorang calon guru dididik dalam lingkungan yang bias gender, kemungkinan besar ia akan membawa bias tersebut ke dalam kelas yang ia ajar nantinya. Sebaliknya, jika FIP berhasil membangun kesetaraan, maka kita sedang melakukan investasi jangka panjang. Kita sedang mengirimkan ribuan para agen perubahan ke sekolah-sekolah yang siap memvalidasi potensi setiap muridnya tanpa terbatas sekat gender.

Menjelang tenggat waktu pencapaian SDGs 2030, peran FIP menjadi semakin vital. Kesetaraan gender bukan hanya isu perempuan, melainkan isu kemanusiaan yang menentukan kualitas peradaban. Mari jadikan fakultas kita bukan hanya tempat untuk mencari gelar, tapi tempat di mana kesetaraan dipraktikkan, ruang aman dijaga, dan setiap suara didengarkan secara setara. Karena pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang tidak membeda-bedakan.

Penulis : Ghisa Maulina (PGSD)

Editor : Chantika Toti Yuliandani  (PGSD)

Dokumentasi: pinterest

Share