fip.unesa.ac.id., Surabaya - Ancaman peredaran gelap narkoba kini menyasar anak usia dini sebagai target pasar menjadi perhatian krusial di dunia pendidikan. Merespons krisis kedaruratan tersebut, Muhammad Reza, promovendus program S3 Teknologi Pendidikan, sukses mempresentasikan disertasinya dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor melalui pengembangan "Model Pembelajaran PRISE".
Risetnya bertajuk “Pengembangan Model Pembelajaran PRISE (Prompt, Integrate, Stimulate, Evaluate) Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Asertif Anak Usia Dini Sebagai Upaya Pembiasaan Hidup Sehat” ini menawarkan pendekatan baru dalam memproteksi generasi emas Indonesia.
Mengutip data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2023 yang mencatat lebih dari 312.000 kasus, Reza memaparkan fakta meresahkan terkait distribusi narkotika yang kian terselubung. Modus operandi sindikat saat ini kerap mengemas zat adiktif menyerupai jajanan anak, minuman sachet, hingga mainan di sekitar lingkungan sekolah.
“Paparan zat adiktif pada fase golden age dapat merusak neurotransmitter otak secara permanen. Masalahnya, anak usia dini belum memiliki kapasitas emosional untuk menyaring bahaya eksternal tanpa adanya sistem proteksi yang aktif,” papar Reza dalam presentasinya.
Sebagai solusi preventif, Reza mengembangkan Model Pembelajaran PRISE yang berakar pada sintaks Prompt, Reflect, Integrate, Stimulate, dan Evaluate. Menariknya, pencegahan ini tidak dilakukan melalui doktrin larangan yang kaku, melainkan difokuskan pada pembentukan kognitif dan kedaulatan atas tubuh sendiri melalui Pembiasaan Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Pembelajaran ini diimplementasikan secara interaktif melalui integrasi media Buku Cerita, Flashcard, hingga Aplikasi Digital berbasis game edukasi bernama D-CAN. Melalui metode ini, anak diajak untuk mengolah pikir, hati, rasa, dan raga secara bermakna dan menggembirakan.
Secara akademik, pengembangan model ini terbukti sangat valid dan membuahkan hasil positif. Berdasarkan uji keefektifan, penggunaan model PRISE menunjukkan peningkatan yang signifikan pada kemampuan berpikir kritis anak dengan nilai N-Gain mencapai 67,4% dan kemampuan asertif sebesar 46,8%.
Melalui model ini, anak dilatih memiliki kemampuan interpretasi dan analisis sehingga peka terhadap objek tak biasa di sekitarnya. Lebih dari itu, kecerdasan asertif anak juga diasah agar mereka memiliki keteguhan hati (persistent) untuk berani berkata "TIDAK" dan menolak pemberian mencurigakan dari orang asing.
Inovasi pendidikan ini tidak hanya berhenti di ruang akademik kampus. Sebagai bentuk hilirisasi riset dan pengabdian nyata, hasil penelitian dan produk Model Pembelajaran PRISE ini telah diserahkan secara resmi kepada BNN Provinsi Jawa Timur pada Kamis, 16 Juli 2026 lalu.
