Tingkatkan Prestasi, FIP Bekali Maba dengan PKM

fip.unesa.ac.id – Surabaya, Fakultas Ilmu Pendidikan memiliki program Sosialisasi dan Coaching Clinic PKM 5 bidang yang memiliki tujuan agar mahasiswa FIP mampu berkompetisi mengikuti PKM 5 bidang dan mampu lolos ketahap PIMNAS. Kegiatan ini diselenggarakan oleh pihak FIP dan di bantu dengan beberapa anggota BEM FIP, yang diselenggarakan pada Jumat, 23 Agustus 2019 di Gedung auditorium FIP lantai 03.

Kegiatan ini dihadiri oleh 100 peserta yang berasal dari mahasiswa FIP Angkatan 2019 yang siap untuk membuat PKM. Acara ini di buka dengan sambutan dari ketua pelaksana, Jihan dan juga Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Heryanto Susilo, S.Pd., M.Pd. Wakil dekan yang lebih dikenal dengan nama Bapak Heri ini memberi motivasi kepada mahasiswa agar terus berkarya, salah satunya dengan menulis karya melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Selain sebagai ajang mengasah kreativitas, PKM dapat menjadi lumbung kesejahteraan bagi mahasiswa. Sosialisasi PKM kali ini disampaikan 2 pemateri yang didatangkan dari Fakultas Bahasa dan Seni, dan Fakultas Ekonomi. Ahmad Ajib Ridlwan, S.Pd., M.SEI. adalah pemateri yang berasal dari Fakultas Ekonomi, sedangkan Prima Vidya Asteria, S.Pd., M.Pd. berasal dari Fakultas Bahasa dan Seni. Kedua pemateri ini membedah 5 PKM yang dapat diusulkan oleh mahasiswa. 5 PKM tersebut yaitu PKM-Penelitian (PKM-P), PKM-Kewirausahaan (PKM-K), PKM-Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M), PKM-Penerapan Teknologi (PKM-T), dan PKM-Karsa Cipta (PKM-KC). Prima Vidya Asteria, S.Pd., M.Pd., menutup sosialisasi PKM dengan kiat-kiat agar PKM yang ditulis mahasiswa bisa tembus menuju pimna. PKM yang ditulis harus merupakan PKM dengan ide orisinil dan unik. Keunikan PKM diawali dengan keunikan judul, sehingga penulis PKM perlu memperhatikan dengan seksama judul PKMnya.

FIP Unesa Gelar The 3RD ICEI 2019

fip.unesa.ac.id – Surabaya, “Teknologi bukan untuk ditakuti melainkan teknologi harus dijadikan peluang kita untuk memperbaiki dan mengembangkan pendidikan” ujar Ibu Siti Ina Savira, S.Psi., M.EdCp. saat menjadi moderator penyampaian materi bersama Keynote Speakers.

Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) – Universitas Negeri Surabaya telah berhasil menggelar event The 3rd ICEI (International Conference on Education Innovation) 2019 di Hotel Wyndham Suarabaya pada Sabtu, 24 Agustus 2019 ini mengangkat tema Empowering Education in Society 5.0 Era”.

Kegiatan ini dinyatakan telah dibuka ditandai oleh adanya pemukulan Gong yang dilakukan secara bergantian diawali oleh bapak Wakil Rektor bidang Akademik Prof. Dr. Bambang Yulianto, M.Pd; Prof H. Ahmad Sonhadji K.H., M.A., P.hD,; Drs. M. Nursalim, M.Si,; dan Drs. Wagino, M.Pd

Kegiatan ini dihadiri oleh 250 orang yang terdiri atas 133 presenter, 22 undangan, dan 95 mahasiswa S1. Para tamu undangan tersebut terdiri atas bapak Wakil Rektor bidang Akademik yaitu Prof. Dr. Bambang Yulianto, M.Pd selaku wakil dari birokrasi Rektorat, serta Jajaran Pendidik dan Tenaga Pendidik FIP.

Seperti tujuan utama dari Seminar International ini yaitu untuk menjembatani para ilmuwan, ahli dan praktisi pendidikan serta mahasiswa untuk berbagi ide dan masalah tentang pengetahuan teoritis dan praktis dalam dunia pendidikan (Teknologi Pendidikan, Manajemen Pendidikan, Psikologi Pendidikan, Bimbingan dan Konseling, Pendidikan Dasar, Pendidikan Luar Biasa, Pendidikan Non-formal, dan Pendidikan Anak Usia Dini) maka diundanglah sejumlah pembicara dari kalangan akademisi dan peneliti pada dunia Pendidikan. Para ahli -yang bertindak sebagai Keynote Speaker- pada the 3rd ICEI 2019 ini adalah

  1. Prof. H. Ahmad Sonhadji K.H., M.A., P.hD dari Universitas Negeri Malang, Indonesia.
  2. Assoc. Prof. Dr. Susan Ledger dari Murdoch University, Australia
  3. Bambang Sumintono, P.hD dari University of Malaya, Malaysia

Prof. H. Ahmad Sonhadji selaku pembicara pertama menyampaikan bahwa di era 5.O ini Pendidikan Tinggi semakin mempunyai tantangan luar biasa sehingga harus mampu mengemban peran penting dalam mempersiapkan mahasiswanya menghadapi segala kedisrupsian era ini. “Digital maket place semakin mengharuskan setiap orang untuk dapat cerdas mengendalikan kemajuan teknologi tersebut. Yang ada adalah manusia yang mengendalikan Teknologi, bukan teknologi yang mengendalikan manusia.” Tambahan dari bapak yang mengenakan setelan jas berwarna coklat dan berdasi motif garis-garis tersebut.

Bambang Sumintono, P.hD University of Malaya, Malaysia yang berjudul Leading School Turnaround in a Developing Country: a case study in Indonesia. Pemateri yang mengenakan kemeja batik berwarna biru tersebut membahas poin yang berbeda dari dua pemateri lain, beliau menyampaikan tentang bagaimana memimpin sekolah yang berkelas menengah ke bawah di negara berkembang ini, dan studi kasus yang ada di negara Indonesia. Dari pembahasannya dapat disimpulkan bahwa kondisi sekolah menengah ke bawah ini cukup memprihatinkan yang mana kemampuan material masih belum bisa mencukupi pengembangan serta pengadaan/aksesibilitas teknologi digital yang membutuhkan modal lumayan besar. Oleh karena itu kepemimpinan sekolah memegang peranan penting dalam menciptakan kondisi untuk perbaikan dan perubahan yang langgeng mengacu pada sekolah yang telah secara signifikan meningkatkan kinerjanya dari ambang batas rendah

Assoc. Prof. Dr. Susan Ledger. Murdoch University, Australia menyampaikan penelitiannya yang berjudul Simulation in Higher Education: Choice, Challenges and Changing Practices. Dr Susan Ledger yang berasal dari Murdoch University, Western Australia menyampaikan bahwa dikatakan banyak lembaga menemukan diri mereka tidak menyadari keragaman teknologi di dalam universitas mereka sendiri mereka mencari bimbingan dan dukungan dari pihak eksternal daripada keahlian lokal dengan itu dapat disimpulkan Simulation artinya proses simulasi kurang dimanfaatkan oleh guru secara maksimal, Choice artinya pilihan pembelajaran harus transformatif bukan substitusi, Challenges artinya tantangan yang ada perlu diprediksi dan menantang, Changing Practices artinya ketika mengubah praktik membutuhkan perencanaan dan visi. Oleh karena itu pula Dr Susan Ledger mengembangakan pemanfaatan teknologi yang semula hanya ada dalam ruang kelas dirubah menjadi teknologi sebagai ruang kelas yang biasanya disebut Classroom Avatars >> SimLab@Murdoch – Australian Site License (Mursion). Simulasi Kelas Avatar ini merepresentasikan visual pengguna, menjadi suatu alter ego atau karakter tertentu. Setelah pemaparan materi dari para keynote speakers agenda seminar berikutnya ialah penyampaian materi dari para speakers di ruangan masing-masing.

“harapannya, agar kedepan bisa lebih bekerja sama lagi dengan UNESA untuk mengadakan research bersama. Karena yang namanya networking itu bukan hanya saling mengenal tetapi tentang bagaimana saling berbagi, anda membagi sesuatu dan yang lain membagi sesuatu kepada anda. Kerja sama dengan dosen dan mahasiswa di UNESA” sahut sang pembicara, Bambang Sumintono seorang lulusan Victoria University of Wellington. “sangat menginspirasi dan menjadi pengalaman berharga bagi saya, semoga ICEI dapat terus terlaksana dengan kualitas yang meningkat pula.” ujar peserta sekaligus presenter ICEI 2019, M. Fahmi Zakariyah Mahasiswa S1 PLS-2015.

Bangun Kecintaan Bangsa, Dosen FISH Paparkan Wawasan Kehidupan Bangsa dan Bernegara

fip.unesa.ac.id – Surabaya Mengakhiri PKKMB hari kedua, panitia PKKMB menyajikan materi tentang “Wawasan Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”. Pemberian wawasan ini berguna bagi garda muda agar semakin cinta tanah air, dan pada akhirnya memupuk dalam jiwa garda muda kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik. Hadir dalam materi kali ini, salah satu Dosen Sejarah Universitas Negeri Surabaya, R.N. Bayu Aji.

Dosen penggemar olahraga ini menjelaskan pentingnya generasi muda memahami 4 wawasan kehidupan berbangsa dan bernegara. Keempat hal tersebut yaitu memahami sejarah pancasila, UUD Republik Indonesia 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta hakikat Bhineka Tunggal Ika. Dalam sejarah, pancasila melintasi rangkaian panjang, mulai dari pembibitan yang dimulai pada tahun 1920an, fase perumusan yang dilaksanakan melalui sidang BPUPKI yang dilaksanakan dari tanggal 29 Mei sampai 1 Juni 1945, dan fase pengesahan pada tanggal 18 Agustus 1945.

Generasi milenial perlu memahami untuk apa memahami UUD Republik Indonesia 1945. Setidaknya ada 4 alasan yang mewajibkan garda muda memahaminya, yaitu memahami hak dan kewajiban warga negara, membangun warga negara yang taat hukum, ikut mengontrol pemerintahan, dan ikut berpartisipasi dalam pembangunan. Pluralitas bangsa indonesia yang berpotensi konflik, perlu disatukan melalui Bhineka Tunggal Ika. Adanya rasa kesatuan yang dirasakan oleh generasi milenial perlu terus ditanamkan, hingga rasa kesatuan diantara warga Indonesia bisa terjalin.

Di akhir materi, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum ini menyampaikan “Ibarat sebuah rumah Pancasila adalah pondasinya, tiangnya adalah undang-undang 1945, atapnya adalah NKRI, dan isinya adalah Bhinneka Tunggal Ika. Oleh karena itu, Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunngal Ika adalah satu kesatuan yang mengikat dan aling mendukung dalam membangun sebuah bangsa”.

Hadiri PKKMB Fakultas Ilmu Pendidikan, Bupati Nganjuk Ajak Garda Muda Cegah Korupsi

fip.unesa.ac.id – Surabaya Jam istirahat PKKMB hari kedua telah berakhir. Semua Garda Muda Dewantara telah siap menerima materi ketujuh mengenai “Peran Mahasiswa Dalam Mencegah Korupsi”. Hadir sebagai pemateri kali ini, Bupati Nganjuk, Novi Rahman Hidayat, S.Sos., M.M. Novi Rahman Hidayat, S.Sos., M.M merupakan bupati baru yang terpilih pada tahun 2018, dan menjabat hingga tahun 2023.

Bupati muda ini mengajak Garda Muda untuk mencegah korupsi dengan memulai dari diri sendiri. Korupsi dapat disebabkan banyak hal, misalnya moral yang rendah, adanya kesempatan, sifat konsumtif, dan lain sebagainya. Korupsi dapat berdampak pada meningkatnya kriminalitas, rasa solidaritas sosial yang langka, meningkatnya kemiskinan, demoralisasi, kepercayaan pada pemerintah turun, dan mahalnya biaya layanan publik yang diberikan. Oleh karena itu melalui Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, pemerintah merumuskan 7 perbuatan korupsi yang dapat dijerat dengan hukuman, yaitu merugikan keuangan negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, curang, adanya kepentingan dalam pengadaan, dan gratifikasi. Dalam menanggulangi hal tersebut, strategi yang dapat dilakukan adalah dengan melaksanakan penindakan, perbaikan sistem, serta memberikan edukasi dan kampanye mengenai anti korupsi.

Mahasiswa, sebagai generasi muda penerus bangsa perlu terlibat dalam gerakan anti korupsi. Dalam memberantas korupsi, mahasiswa memiliki peran sebagai agent of change dengan membawa pengaruh positif anti korupsi di masyaraat, menyuarakan kepentingan rakyat, mengkritisi kebijakan yang koruptif, dan menjadi pengawas lembaga negara dan penegak hukum. Oleh karena itu, bupati yang memiliki 4 anak ini mendorong mahasiswa untuk terlibat dalam gerakan anti korupsi baik di lingkungan keluarga, kampus, masyarakat sekitar, bahkan di tingkat lokal dan nasional.

Tanggulangi Terorisme, Rektorat Jumpa Garda Muda Melalui Teleconference

fip.unesa.ac.id – Surabaya Berbeda dengan tahun sebelumnya, materi keenam pada PKKMB kedua tahun ini disampaikan oleh pihak rektorat hanya kepada 75 peserta PKKMB delegasi Fakultas Ilmu Pendidikan di gedung rektorat. Selain 75 peserta PKKMB delegasi, peserta PKKMB lainnya mengikuti materi melalui teleconference di setiap fakultas. Fakultas Ilmu Pendidikan melakukan teleconference di ruang auditorium O5. Pada teleconference kali ini, Deputi V Kantor Staf Kepresidenan Jaleswari Pramodhawardani, M.A menjadi Keynote Speaker. Narasumber lainnya yang mengisi materi keenam ini diantaranya adalah Kapolda Jatim Brigadir Jenderal Polisi Drs. Toni Harmanto, M.H., Direktur Pencegahan BNPT Brigadir Jenderal Polisi Ir. Hamli, M.E., Rektor Universitas Negeri Surabaya yang diwakili oleh Wakil Rektor 1, dan penulis buku “Membongkar Proyek Khilafah HTI” Dr. Ainur Rofiq Al-Amin, S.H., M.Ag.

Deputi V Kantor Staf Kepresidenan menyampaikan terdapat 3 perubahan utama yang terjadi di tatanan nasional, yaitu kemunculan generasi milenial, tantangan identitas kebangsaan, dan fenomena hijrah di Indonesia. Berdasarkan data Bappenas, dari 132.000.000 pengguna internet, terdapat 86,5% generasi milenial usia 16-35 tahun sebagai pengguna internet. Hal ini perlu diberi perlakuan khusus agar generasi muda tidak terpengaruh budaya luar yang buruk. Dalam menghadapi tantangan identitas kebangsaan, perlu ditanamkan nilai-nilai pancasila pada generasi milenial. Fenomena hijrah seharusnya berpindah dari keadaan saat ini menuju keadaan yang lebih baik dengan mengaktualisasikan diri ke arah yang lebih positif sesuai dengan ideologi pancasila.

Brigjen Pol. Ir. Hamli, M.E. mengatakan perkembangan paham terorisme sangat menakutkan. Pencegahan dini dalam menanggulangi terorisme harus terus dilakukan. Berdasarkan hasil penelitian, motif aksi terorisme berasal dari ideologi agama, solidaritas komunal, mob mentality, balas dendam, situasional, dan separatisme. Proses rekrutmen radikalisme di kampus dilakukan dengan mendekati mahasiswa baru dengan berbagai pendekatan dan pada tahap selanjutnya mendoktrin mahasiswa dengan ajaran-ajaran radikal. Doktrinasi yang dilakukan dengan mengadakan pengajian yang bermaterikan tentang toghut, kafir demokrasi, khilafah, mati syahid, serta pembahasan takfiri. Menurut BNPT dalam menangkal terorisme kearifan lokal, kesejahteraan, kebebasan, kepercayaan umum, keadilan, dan pertahanan dan keamanan dapat dikembangkan oleh perguruan tinggi.

Wakil rektor 1 Prof. Dr. Bambang Yulianto, M.Pd  memaparkan bagaimana mengenali radikalisme melalui ciri-ciri yang terlihat. Setidaknya ada 4 ciri radikalisme yang dapat dilihat, yaitu memaksakan pendapat dan kehendak, ekslusif, fanatik, dan revolusioner. Mahasiswa sebagai generasi muda bangsa harus menolak dan tidak mengikuti pemikiran, sikap, dan perilaku yang mengarah pada ciri-ciri radikalisme. Generasi muda memiliki peran penting dalam menangkal radikalisme. Universitas Negeri Surabaya memiliki lembaga yang dibangun untuk menangkal munculnya radikalisme di kampus. Universitas Negeri Surabaya melalui Idaman Jelita, berusaha menangkal radikalisme yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Yayasan Orbit: Peran Mahasiswa Dalam Penanggulangan Narkoba

fip.unesa.ac.id – Surabaya Hari kedua PKKMB dimulai kembali. Tepat Pukul 06.30, peserta PKKMB melaksanakan kegiatan apel sebelum menerima materi PKKMB lebih lanjut. Materi kelima PKKMB pada hari kedua ini mengangkat tema tentang “Peran Mahasiswa Dalam Penanggulangan Narkoba” yang akan dibawakan oleh Hanif Kurniawati, S.Pd dari Yayasan Orbit. Yayasan Orbit merupakan organisasi non pemerintah yang dibangun atas dasar kepedulian dan keprihatinan terhadap permasalahan sosial yang terjadi pada masyarakat indonesia, utamanya pada permasalahan penggunaan NAPZA dan kasus HIV-AIDS. Materi kali ini dipandu oleh Ari Khusumadewi, S.Pd., M.Pd, dosen Jurusan Bimbingan Konseling.

Aktivis orbit yang sering dipanggil Hanif ini menjelaskan sesuai aturan perundang-undangan, narkotika dapat digolongkan menjadi 3 bagian, yaitu narkotika golongan I, golongan II, golongan III.  Narkotika golongan I merupakan obat-obatan yang hanya dapat digunakan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan berpotensi sangat tinggi terhadap ketergantungan. Obat-obatan yang tergolong pada golongan ini diantaranya adalah heroin, kokain, dan ganja. Sedangkan narkotika golongan II merupakan obat-obatan yang dapat digunakan untuk terapi dan pengembangan ilmu pengetahuan, dan berpotensi tinggi terhadap ketergantungan. Contoh obat-obatan yang tergolong golongan II adalah morfin dan petidin. Berbeda dengan golongan I dan II, narkotika golongan IIIyang dapat digunakan pada terapi dan pengembangan ilmu pengetahuan, memiliki potensi ringan untuk ketergantungan. Contoh obat-obatan golongan III yaitu kodein.

Sebagai salah satu unsur perguruan tinggi, Hanif menyampaikan mahasiswa peran penting dalam menerapkan tri dharma perguruan tinggi dalam penanggulangan narkoba. Dalam bidang pendidikan, mahasiswa dapat mempelajari seluk beluk mengenai narkoba dan membuat forum-forum diskusi penanggulangan narkoba. Pada bidang penelitian, mahasiswa dapat melakukan penelitian mengenai narkoba sesuai dengan bidangnya dan dapat melakukan penelitian melalui kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Kegiatan pengabdian masyarakat bagi mahasiswa dapat dilakukan dengan melakukan penyuluhan-penyuluhan bebas narkoba, baik di sekolah maupun masyarakat.

Menutup materi pertama di hari kedua, konselor yayasan orbit ini berpesan, “Jangan jauhi pengguna narkoba, dekati ajak bicara dan gunakan pendekatan persuasif. Jika anda sebagai pengguna atau mengetahui kerabat atau saudara menggunakan narkoba, pastikan terlebih dahulu, jangan sampai hal tersebut merupakan asumsi kita, dan jika telah pasti komunikasikan dengan orang yang lebih ahli mengenai narkoba semisal BNN atau lembaga rehabilitasi lainnya”.

Fakultas Ilmu Pendidikan Jadikan Kurban Sebagai Momen Kebersamaan dan Berbagi

fip.unesa.ac.id – Surabaya Idul Adha merupakan hari raya yang identik dengan pengorbanan Nabi Ibrahim As dengan menyembelih putranya Nabi Ismail As. Begitu juga seorang muslim sejati, siap berkorban menaati perintah Allah SWT, yang salah satunya diwujudkan dengan melaksanakan kurban dan membagikannya kepada muslim lainnya. Fakultas Ilmu Pendidikan mewujudkan momen Idul Adha ini dengan menyembelih kurban dan membagikannya kepada civitas akademika yang ada di Universitas Negeri Surabaya. Penyelenggaraan kurban kali ini, Fakultas Ilmu Pendidikan melibatkan beberapa dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa yang berasal dari utusan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan. Persiapan kegiatan kurban telah dimulai dua minggu sebelum pelaksanaan kegiatan kurban dengan mencari binatang kurban yang akan disembelih.

Hari Selasa, 13 Agustus pukul 06.30, penyembelihan kurban dilaksanakan oleh panitia. Terdapat 6 hewan kurban yang disembelih. Lima hewan tersebut adalah kambing, yang berasal dari sumbangan dosen dan tenaga kependidikan di Fakultas Ilmu Pendidikan. Ulhaq Zuhdi, S.Pd., M.Pd Ketua Panitia Kurban Fakultas Ilmu Pendidikan,  mengatakan, “Kegiatan kurban di Fakultas Ilmu Pendidikan merupakan salah satu momen kebersamaan yang ada di fakultas, dimana dosen dan tenaga kependidikan bersama-sama menyembelih kurban dan membaginya secara merata. Momen seperti ini tidak boleh hilang, selain karena wujud nyata ibadah kepada Allah, di lain pihak terdapat kebersamaan yang tak tergantikan”.

Rencananya kurban yang telah disembelih akan dibagikan kepada tiga pihak, yaitu cleaning service di Fakultas Ilmu Pendidikan, satpam, dan mahasiswa yang berada di sekitar Universitas Negeri Surabaya. Panitia kurban Fakultas Ilmu Pendidikan tidak membagi kupon kepada penerima kurban. Hal ini dilakukan untuk menghindari tidak sesuainya kupon yang dibagikan dengan jumlah kurban yang dibagikan. Panitia kurban akan membagi langsung kepada penerima yang telah ditentukan sebelumnya dan dapat ditemui oleh panitia kurban Fakultas Ilmu Pendidikan. (rif/pif)

Heryanto Susilo, M.Pd Motivasi Garda Muda Jadi Mahasiswa Bermutu

fip.unesa.ac.id – Surabaya PKKMB hari pertama ditutup dengan penyampaian materi kemahasiswaan dan alumni. Materi kemahasiswaan membahas mengenai “Organisasi dan Kegiatan Kemahasiswaan dan Alumni Serta Sapta Trapsila Mahasiswa Unesa”. Materi penutup ini dilaksanakan dari jam 14.20 – 15.35 WIB. Sebagai pemateri terakhir, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Heryanto Susilo, S.Pd., M.Pd menyampaikan organisasi dan kegiatan kemahasiswaan di Fakultas Ilmu Pendidikan.

Dosen Pendidikan Luar Sekolah ini menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan kemahasiswaan, mulai dari seleksi mahasiswa, proses selama menjadi mahasiswa, hingga mahasiswa keluar menjadi alumni. Input mahasiswa Unesa memiliki keanekaragaman, baik dipandang dari jenis pendidikannya maupun dari segi pengalaman dan asal mahasiswa. Dilihat dari jenis pendidikannya, mahasiswa Unesa berasal dari beberapa sekolah, mulai dari SMA, SMK, dan MA. Tidak ada batasan daerah yang bisa masuk Unesa. Unesa menerima semua mahasiswa yang ingin masuk, namun tetap melalui proses seleksi. Terdapat 5 jalur masuk yang dapat ditempuh oleh calon mahasiswa, yaitu SNMPTN, Afirmasi, Bidik Misi, Mandiri, dan SBMPTN.

Terdapat 3 peran yang diemban oleh mahasiswa, yaitu mahasiswa sebagai Iron Stock, mahasiswa sebagai Guardian of Value, dan mahasiswa sebagai Agent of Change. Sebagai Iron Stock mahasiswa dituntut menjadi pengganti yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Sebagai Guardian of Value mahasiswa dituntut menjaga nilai-nilai moral yang telah ada di masyarakat. Sedangkan sebagai Agent of Change, mahasiswa dituntut dapat mengubah keadaan yang saat ini kurang baik menjadi keadaan yang lebih baik lagi. Untuk mencapai kondisi tersebut, karakter yang harus dimiliki oleh mahasiswa harus mencakup karakter yang mampu mendukung kemampuan akademik, sosial, dan ekologis mahasiswa. Kemampuan tersebut perlu direncanakan mulai dari saat mahasiswa masuk, dan bagaimana mahasiswa termotivasi untuk mencapai target yang diinginkan.

Menutup materi terakhir, wakil dekan yang sering disapa dengan pak Hery ini berpesan kepada mahasiswa “Jangan Menunggu sesuatu yang menjadi bakat anda, tapi dalamilah sesuatu yang akan menjadi bakat anda sehinga anda menjadi ahli. Jangan hanya mengandalkan kegiatan perkuliahan di kelas, carilah pengalaman untuk meningkatkan kompetensi anda”.

Sampaikan Administrasi dan Keuangan, Dr. Najlah Himbau Garda Muda Cintai Lingkungan


fip.unesa.ac.id – Surabaya Semangat Garda Muda Dewantara dalam melaksanakan rangkaian PKKMB masih terus membara. Hal ini dapat dilihat dari masih antusiasnya mahasiswa mengikuti materi ketiga yang menjadi rangkaian kegiatan PKKMB pada hari pertama. Pada materi kali ini, panitia PKKMB mengangkat tema “Manajemen Pelayanan Administrasi Umum dan Keuangan”. Diniyah bertindak sebagai moderator. Dr. Najlatun Naqiyah, M.Pd selaku Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum dan Keuangan menjadi pemateri pada sesi kali ini.

Dosen yang berasal dari Probolinggo ini, memaparkan 5 hal yang berkaitan dengan tugasnya, yaitu program kerja bidang administrasi umum dan keuangan, struktur organisasi fakultas ilmu pendidikan, fasilitas belajar mahasiswa, beasiswa, dan pembayaran pendidikan yang lebih dikenal dengan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Struktur organisasi Fakultas Ilmu Pendidikan, terdiri dari Dekan yang dijabat oleh Dr. Mochamad Nursalim, M.Si, Wakil Dekan Bidang Akademik Dr. Wagino, M.Pd., Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum dan Keuangan Dr. Najlatun Naqiyah, M.Pd., dan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Heryanto Susilo, S.Pd., M.Pd. Setiap bidang dibantu oleh Kasubag yang berada dibawah arahan Kabag Tata Usaha Fakultas Ilmu Pendidikan Drs. Rahmat Basuki, M.M. Fakultas Ilmu Pendidikan memiliki 8 jurusan, yaitu jurusan psikologi, jurusan bimbingan konseling, jurusan pendidikan luar biasa, jurusan pendidikan guru anak usia dini, pendidikan guru sekolah dasar, jurusan pendidikan luar sekolah, jurusan kurikulum dan teknologi pendidikan, dan jurusan manajemen pendidikan.

Dalam mendukung kegiatan pembelajaran, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) menyiapkan sarana yang memadai. Setidaknya FIP memiliki 8 gedung perkuliahan dan 64 ruangan untuk kegiatan proses belajar mengajar. Selain itu FIP menyediakan fasilitas-fasilitas khusus yang dapat digunakan mahasiswa, misalnya ruang auditorium. Fasilitas-fasilitas khusus tersebut dapat digunakan melalui prosedur perizinan pada bagian administrasi umum dan keuangan. Hanya saja, dosen muda bimbingan konseling tersebut berpesan, dalam penggunaan fasilitas yang ada, mahasiswa diminta untuk menjaga dan merawatnya dengan baik, terutama mengenai kebersihan ruangan. Sekalipun FIP memiliki cleaning service yang memadai, namun kesadaran mahasiswa akan kebersihan tetap perlu ditumbuhkan, tanpa mengandalkan celaning service yang ada.

Dukung Mahasiswa Milenial, Dr. Wagino, M.Pd Hadapkan Garda Muda Pada Revolusi Industri 4.0


fip.unesa.ac.id – Surabaya Rangkaian PKKMB hari pertama Fakultas Ilmu Pendidikan masih terus berjalan. Salah satu materi yang diberikan adalah General Education dan Sistem Pendidikan Tinggi serta Kegiatan Akademik di Unesa. Muhamad Sani Rosyad Hasbillah Jurusan Psikologi Angkatan 2018 menjadi moderator pada materi kedua dalam rangkaian PKKMB Fakultas Ilmu Pendidikan ini. Dr. Wagino, M.Pd selaku Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya menjadi pemateri kedua PKKMB.

Dengan gaya khasnya yang santai, dosen Jurusan Pendidikan Luar Biasa ini menjelaskan tentang pendidikan yang berkembang saat ini. Melihat dari data yang berkembang mengenai penggunaan media internet, pendidikan di Indonesia saat ini perlu melihat kebutuhan yang ada di masyarakat terutama kebutuhan pekerjaan. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, maka pendidikan yang mengarah pada Revolusi Industri 4.0 perlu dikembangkan. Tanpa meninggalkan konsep pendidikan yang mengarah pada learning to know, learning to be, learning to do, dan learning to live together, pendidikan di Indonesia perlu diarahkan ke arah digitalisasi.

Unesa sebagai salah satu perguruan tinggi yang berfokus pada dunia pendidikan, berupaya menjawab tantangan tersebut. Secara umum, pendidikan di Unesa telah banyak menggunakan digital dalam melaksanakan proses pendidikan, mulai dari kegiatan administratif hingga kegiatan pembelajaran. Proses pendidikan di Unesa mulai dari pemrosesan Kartu Rencana Studi (KRS), kegiatan perkuliahan, tugas dan ujian, pemrosesan Kartu Hasil Studi (KHS), pendaftaran Praktik Kerja Lapangan (PKL), PLP, Kuliah Kerja Nyata (KKN), transkrip nilai, skripsi, yudisium hingga wisuda, semuanya telah menggunakan digital untuk mempermudah civitas akademik.  Namun, sekalipun semuanya telah mengacu pada Revolusi Industri 4.0, Unesa dengan semboyan utamanya “Growing With Character”, tetap tidak meninggalkan pendidikan karakter yang ada. Hal ini terbukti dengan munculnya mata kuliah yang berkaitan dengan pengembangan kepribadian mahasiswa, pendidikan agama, pancasila, pendidikan kewarganegaraan, bahasa indoesia, serta ilmu dasar alam yang mengarah pada perkembangan karakter dan cinta tanah air.