Anjas Pramono untuk UNESA: “Kita Bisa!”

fip.unesa.ac.id – Surabaya, Mengusung tema “Generasi Milenial Sebagai Pemeran Pendidikan dalam Kontestasi Global”, BEM FIP UNESA sukses mengajak peserta talkshow nasional pendidikan nasional untuk bersama membuka pikiran tentang peran generasi milenial dalam bidang pendidikan masa kini, pada Jum’at 1 November 2019.

“tugas kita adalah menjadi yang terbaik di bidang masing – masing. Kita bukan bangsa yang kecil. Kita adalah bangsa yang besar. Kami berharap melalui kegiatan ini peserta dapat terinspirasi oleh pemateri untuk turut bisa berprestasi hingga panda kanca internasional” Ketua BEM FIP UNESA, Ahmad Abdullah menyampaikan sambutannya

Dalam talkshow, dipaparkan oleh Anjas Pramono bahwasanya masih banyak aspek pendidikan di Indonesia yang perlu untuk diperbaiki. Namun demikian, dengan semangat dan niat yang kuat, tidak menutup kemungkinan generasi milenial Indonesia bisa meningkatkan citra Indonesia di kanca internasional.

“Saya sendiri menjadi bukti bahwa kemauan yang besar turut mendorong kita untuk mencapai mimpi yang besar pula” ucap Anjas dalam talkshow ketika ditanyai soal pengalamannya menjadi orang yang sukses menempuh pendidikan di luar negeri.

“Jika ditanya apakah semua anak Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional? Bisa sekali! Sekarang tujuan kita yang lainnya adalah menciptakan pendidikan yang  ramah bagi semua orang baik non-disabilitas maupun disabilitas” sambungnya Tak hanya itu, talkshow  nasional kali ini turut menghadirkan berberapa pemateri lain, yakni Javas Afrizal Pratama, S. Pd., International Education Counselor at Loekito Educational Group dan  Nurchayati, S. Psi., M. A., Ph. D., dosen jurusan psikologi UNESA. Pemateri yang dihadirkan merupakan orang – orang yang berpengalaman dalam dunia pendidikan internasional sehingga mampu memberikan motivasi kepada peserta untuk tidak takut bersaing di kanca internasional. -Al

Obsesi Mahasiswa HMJ KTP Mengajak Mahasiswa Baru Aktif Berorganisasi

fip.unesa.ac.id – 4 November 2019, untuk memeriahkan pekan ilmiah, jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan mengadakan Obsesi Mahasiswa (Obrolan Seputar Organisasi) Mahasiswa. Acara pagi ini dihadiri oleh mahasiswa angkatan 2019, mahasiswa TP yang aktif di ormawa seperti HMJ, BEM-F, DPM-F dan Ormada. Dimulai pukul 10.00, bertempat di ruang kelas 2018 A, acara ini dibuka oleh Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan KTP, Finie Tabita Angelica Hutagalung. Acara yang disebut dengan Obsesi Mahasiswa ini juga dihadiri oleh perwakilan anggota IMATEPSI atau Ikatan Mahasiswa Teknologi Pendidikan se-Indonesia.

Diawali dengan mahasiswa TP dari angkatan 2018, Diah Safitri memperkenalkan dirinya sebagai staff ahli di komisi 2 DPM FIP Unesa. Ia juga menjelaskan bahwa di DPM terdapat Caleg dan Staff Ahli. Mahasiswa TP lainnya yang aktif berorganisasi di DPM FIP juga ikut berpartisipasi, bercerita tentang ormawa kepada mahasiswa baru.

Selanjutnya giliran mahasiswa yang aktif dalam bidang Eksekutif (BEM), Alda Putri dan Adinda Gea (angkatan 2017), dan Khairani (angkatan 2018) adalah perwakilan mahasiswa TP yang datang ke acara Obsesi ini. Mereka menjelaskan departemen yang ada di BEM dan memaparkan program kerja mereka, salah satunya yang akan diselenggarakan hari Jumat, 8 November mendatang yaitu Golden Expression.

Selain itu, ada pula mahasiswa yang aktif menjadi fungsionaris di organisasi mahasiswa daerah (Ormada). Salah satu ormada yang hadir dalam acara ini dari daerah Kediri, Pasuruan, Tulungagung, Bojonegoro dan Mojokerto. Sebagai penutup, IMATEPSI memberikan informasi bahwa Teknologi Pendidikan sendiri memiliki organisasi yang luas cakupannya, yaitu seluruh Indonesia. IMATEPSI juga membuka pendaftaran untuk mahasiswa yang ingin berkontribusi. Mereka juga berpesan bahwa banyak sekali keuntungan yang bisa didapatkan jika mengikuti IMATEPSI, misalnya adalah bisa berkeliling Indonesia untuk mengikuti kongres yang rutin diadakan.

Rujakan, MP Formulasikan Renstra 2021-2025

fip.unesa.ac.id – Mengisi pekan ilmiah yang menjadi agenda Universitas Negeri Surabaya, Jurusan Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan menyelenggarakan kegiatan keakraban. Kegiatan keakraban ini dilakukan dengan berkumpul bersama dengan agenda rujakan bareng. Hadir dalam kegiatan ini 10 dosen dari 12 dosen tetap yang ada di Jurusan Manajemen Pendidikan. Ketua jurusan dan sekretaris jurusan manajemen pendidikan mengawali kegiatan ini dengan membahas persyaratan pelaksanaan seminar proposal dan sidang skripsi. Bapak Syunu Trihantoyo selaku ketua jurusan menyampaikan, “persyaratan seminar proposal dan sidang skripsi ini sudah sesuai dengan prosedur mutu yang disusun GPM fakultas”. Pembahasan ini menghasilkan form pengajuan bebas plagiasi serta prosedur pelaksanaan pengajuan bebas plagiasi. Selain itu, rujakan bareng yang dikomandani oleh ketua jurusan ini juga membahas Rencana Strategis Jurusan Manajemen Pendidikan Tahun 2021-2025. Peserta rujakan membahas mengenai visi, misi, tujuan, serta sasaran strategis jurusan yang akan dicapai kedepannya. Para peserta melakukan Focus Group Discussion tentang arah perkembangan pendidikan kedepannya, utamanya ketika memasuki era revolusi industri 4.0 dan society 5.0. Renstra Jurusan Manajemen Pendidikan Tahun 2021-2025 dibreakdown kembali hingga menemukan program umum yang akan dilaksanakan oleh Jurusan Manajemen Pendidikan.

Tingkatkan Self Efficacy, Tim PKM FIP Unesa Latih Santri Al-Falah Public Speaking

fip.unesa.ac.id – Dalam kegiatan pendidikan yang wajib ditekankan ialah pada kepemimpinan. Kepemipinan yang baik membutuhkan suatu keterampilan salah satunya adalah kemampuan berbicara didepan umum. Kemampuan berbicara didepan umum bisa diperbaiki dengan kita terbiasa berpidato atau belajar public speaking. Pondok pesantren merupakan suatu lembaga pendidikan yang banyak melahirkan santri-santri untuk berdakwah. Santri membutuhkan pelatihan dan pendampingan dalam latihan pidato. Santri perlu membekali keterampilan berdakwah dengan cara berpidato  Santri yang percaya diri akan memperoleh penguasaan diri saat tampil di muka umum. Rasa keyakinan untuk berhasil berbicara didepan umum membutuhkkan banyak latihan dan pengalaman. Sehingga santri mampu berbicara dengan tenang, jelas pesan yang disampaikan dan penuh keyakinan dalam menyampaikan pesan-pesan agama ke masyarakat. Sebaliknya, santri yang takut akan mengalami kegagalan ketika tampil memberikan pesan-pesan agama.

Universitas Negeri Surabaya (UNESA) sebagai salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Timur mempunya Visi “Unggul dalam Kependidikan Kukuh Dalam Keilmuan”. Misi Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yaitu: (1) Menyelenggarakan pendidikan dan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan menggunakan pendekatan pembelajaran yang efektif, dan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi (2) Menyelenggarakan penelitian dalam ilmu pendidikan, ilmu alam, ilmu sosial budaya, seni, dan/atau olahraga, dan pengembangan teknologi yang temuannya bermanfaat bagi pengembangan ilmu dan kesejahteraan masyarakat (3) Menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, seni budaya dan olah raga, serta hasil penelitian melalui pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada pemberdayaan dan pembudayaan masyarakat (4) Mewujudkan unesa sebagai pusat kependidikan, terutama pendidikan dasar dan menengah serta pusat keilmuan yang didasarkan pada nilai-nilai luhur kebudayaan nasional (5) Menyelenggarakan tatapamong perguruan tinggi yang otonom, akuntabel, dan transparan untuk penjaminan dan peningkatan mutu dan peningkatan kualitas berkelanjutan.  

Berdasarkan Visi dan Misi di atas Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM)  Universitas Negeri Surabaya (UNESA) mengadakan suatu program yang diberi nama Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Menurut Dr. Najlatun Naqiyah., M.Pd. selaku ketua Tim PKM UNESA “Pelatihan public speaking kepada santri pondok pesantren Al-Falah, Ploso, Mojo Kediri bertujuan untuk meningkatkan self-efficacy (rasa berhasil) saat pidato. Saya dan anggota tim PKM UNESA yang terdiri dari: Dr. Mutimmatul Faidah, S.Ag., M.Ag, Sjaflatul Mardliyah, S.Sos., M.A, Dr. M. Turhanyani, Muhammad Farid Ilhamnudin S.Pd., M.Pd, dan Sumarlik, S.Pd berkerjasama dengan pengurus pondok pesantren Al-Falah, Ploso, Mojo Kediri yaitu Gus Fahmi berusaha mewujudkan harapan orangtua yang menginginkan anak-anak mereka menjadi pemimpin dan ahli dakwah dimasyarakat setelah lulus dari pondok pesantren.” (Sabtu, 14/9/2019).

Kegiatan pelatihan public speaking kepada santri pondok pesantren Al-Falah, Ploso, Mojo Kediri untuk meningkatkan self-efficacy (rasa berhasil) saat pidato diawali dengan acara pembukaan. Peserta pelatihan public speaking dibagi menjadi dua tempat yaitu 20 santri di pondok pesantren Al-Falah Putra dan 20 santriwati di pondok pesantren Al-Falah Putri. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian modul, ATK dan angket pre-test oleh TIM PKM UNESA kepada peserta. Peserta diwajibkan untuk mengisi angket pre-test terlebih dahulu sebelum memasuki sesi pelatihan public speaking. Pelatihan dilakukan dengan membahas modul dan memberikan contoh yang benar ketika tampil di depan umum agar mempermudah santri dalam menerima materi public speaking. Setelah sesi latihan acara selanjutnya yaitu lomba pidato yang diikuti oleh seluruh peserta pelatihan dengan tampil didepan juri dan audience secara bergilir. Acara terakhir yaitu pengisian angket post-test serta pengumuman juara 1, 2, 3, harapan 1 dan harapan 2. Tujuan diberikannya angket pre-test dan post-test kepada santri ialah untuk mengetahui tingkat self-efficacy (rasa berhasil) saat pidato sebelum dan sesudah pelatihan.  Hasil pre-test menunjukkan santri kurang mampu mengelola latihan pidato yang menarik dan berkelanjutan. Banyak santri yang merasa kurang percaya diri untuk tampil berbicara dimuka umum. Setelah melaksanakan pelatihan santri mengalamai perubahan yang lebih baik. Pidato yang ditampilkan sangat menarik dan santri terlihat percaya diri dengan materi pidato yang disampaikan. Pidato yang ditampilkan santri membahas permasalahan jaman sekarang yang dikaji dari segi agama seperti: keutamaan berbuat baik kepada kedua orang tua, peran seorang wanita, pentingnya mencari ilmu, tentara-tentara hati dan masih banyak lainnya. Sehingga pelatihan public speaking kepada santri pondok pesantren Al-Falah, Ploso, Mojo Kediri efektif  untuk meningkatkan self-efficacy (rasa berhasil) saat pidato.

Jurnal Dinamika Manajemen Pendidikan siap publikasikan karya Kepala Sekolah dan Pengawas se-Kabupaten Jombang

fip.unesa.ac.id – Jombang, 5 September 2019 Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Kabupaten Jombang. Kegiatan ini dilaksanakan di aula dinas Pendidikan kabupaten Jombang atas kerjasama antara FIP Unesa dan Dinas Pendididkan Kabupaten Jombang. Peserta kegiatan ini terdiri dari pengawas, kepala sekolah, guru SD dan SMP, serta bunda PAUD se-Kabupaten Jombang. Adapun tim PKM dari FIP Unesa merupakan kolaborasi antara jurusan Manajemen Pendidikan, Teknologi Pendididkan, dan Pendidikan Anak Usia Dini. Kegiatan ini diikuti oleh 120 peserta dengan materi bimbingan penelitian tindakan sekolah, pengembangan multimedia berbasis powerpoint, dan pembuatan fun-games berbasis kearifan lokal.

Serangkaian kegiatan ini diawali dengan sambutan oleh Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan, Dr. Mochamad Nursalim, M.Si. dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang, drg. Budi Nugroho, MPPM. Dalam sambutannya disampaikan tujuan kegiatan ini untuk pengembangan sumber daya pendidik se-Kabupaten Jombang sehingga Lembaga Pendidikan (sekolah) di kabupaten Jombang dapat lebih berkualitas baik pada aspek manajerial maupun pembelajaran. Kompetensi yang dihasilkan dari kegiatan ini adalah hasil karya peserta dalam membuat artikel hasil penelitian. Artikel tersebut selanjutnya akan dipublikasikan pada jurnal dinamika manajemen Pendidikan yang dikelola oleh program studi Manajemen Pendidikan FIP Unesa.

Tingkatkan Prestasi, FIP Bekali Maba dengan PKM

fip.unesa.ac.id – Surabaya, Fakultas Ilmu Pendidikan memiliki program Sosialisasi dan Coaching Clinic PKM 5 bidang yang memiliki tujuan agar mahasiswa FIP mampu berkompetisi mengikuti PKM 5 bidang dan mampu lolos ketahap PIMNAS. Kegiatan ini diselenggarakan oleh pihak FIP dan di bantu dengan beberapa anggota BEM FIP, yang diselenggarakan pada Jumat, 23 Agustus 2019 di Gedung auditorium FIP lantai 03.

Kegiatan ini dihadiri oleh 100 peserta yang berasal dari mahasiswa FIP Angkatan 2019 yang siap untuk membuat PKM. Acara ini di buka dengan sambutan dari ketua pelaksana, Jihan dan juga Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Heryanto Susilo, S.Pd., M.Pd. Wakil dekan yang lebih dikenal dengan nama Bapak Heri ini memberi motivasi kepada mahasiswa agar terus berkarya, salah satunya dengan menulis karya melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Selain sebagai ajang mengasah kreativitas, PKM dapat menjadi lumbung kesejahteraan bagi mahasiswa. Sosialisasi PKM kali ini disampaikan 2 pemateri yang didatangkan dari Fakultas Bahasa dan Seni, dan Fakultas Ekonomi. Ahmad Ajib Ridlwan, S.Pd., M.SEI. adalah pemateri yang berasal dari Fakultas Ekonomi, sedangkan Prima Vidya Asteria, S.Pd., M.Pd. berasal dari Fakultas Bahasa dan Seni. Kedua pemateri ini membedah 5 PKM yang dapat diusulkan oleh mahasiswa. 5 PKM tersebut yaitu PKM-Penelitian (PKM-P), PKM-Kewirausahaan (PKM-K), PKM-Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M), PKM-Penerapan Teknologi (PKM-T), dan PKM-Karsa Cipta (PKM-KC). Prima Vidya Asteria, S.Pd., M.Pd., menutup sosialisasi PKM dengan kiat-kiat agar PKM yang ditulis mahasiswa bisa tembus menuju pimna. PKM yang ditulis harus merupakan PKM dengan ide orisinil dan unik. Keunikan PKM diawali dengan keunikan judul, sehingga penulis PKM perlu memperhatikan dengan seksama judul PKMnya.

FIP Unesa Gelar The 3RD ICEI 2019

fip.unesa.ac.id – Surabaya, “Teknologi bukan untuk ditakuti melainkan teknologi harus dijadikan peluang kita untuk memperbaiki dan mengembangkan pendidikan” ujar Ibu Siti Ina Savira, S.Psi., M.EdCp. saat menjadi moderator penyampaian materi bersama Keynote Speakers.

Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) – Universitas Negeri Surabaya telah berhasil menggelar event The 3rd ICEI (International Conference on Education Innovation) 2019 di Hotel Wyndham Suarabaya pada Sabtu, 24 Agustus 2019 ini mengangkat tema Empowering Education in Society 5.0 Era”.

Kegiatan ini dinyatakan telah dibuka ditandai oleh adanya pemukulan Gong yang dilakukan secara bergantian diawali oleh bapak Wakil Rektor bidang Akademik Prof. Dr. Bambang Yulianto, M.Pd; Prof H. Ahmad Sonhadji K.H., M.A., P.hD,; Drs. M. Nursalim, M.Si,; dan Drs. Wagino, M.Pd

Kegiatan ini dihadiri oleh 250 orang yang terdiri atas 133 presenter, 22 undangan, dan 95 mahasiswa S1. Para tamu undangan tersebut terdiri atas bapak Wakil Rektor bidang Akademik yaitu Prof. Dr. Bambang Yulianto, M.Pd selaku wakil dari birokrasi Rektorat, serta Jajaran Pendidik dan Tenaga Pendidik FIP.

Seperti tujuan utama dari Seminar International ini yaitu untuk menjembatani para ilmuwan, ahli dan praktisi pendidikan serta mahasiswa untuk berbagi ide dan masalah tentang pengetahuan teoritis dan praktis dalam dunia pendidikan (Teknologi Pendidikan, Manajemen Pendidikan, Psikologi Pendidikan, Bimbingan dan Konseling, Pendidikan Dasar, Pendidikan Luar Biasa, Pendidikan Non-formal, dan Pendidikan Anak Usia Dini) maka diundanglah sejumlah pembicara dari kalangan akademisi dan peneliti pada dunia Pendidikan. Para ahli -yang bertindak sebagai Keynote Speaker- pada the 3rd ICEI 2019 ini adalah

  1. Prof. H. Ahmad Sonhadji K.H., M.A., P.hD dari Universitas Negeri Malang, Indonesia.
  2. Assoc. Prof. Dr. Susan Ledger dari Murdoch University, Australia
  3. Bambang Sumintono, P.hD dari University of Malaya, Malaysia

Prof. H. Ahmad Sonhadji selaku pembicara pertama menyampaikan bahwa di era 5.O ini Pendidikan Tinggi semakin mempunyai tantangan luar biasa sehingga harus mampu mengemban peran penting dalam mempersiapkan mahasiswanya menghadapi segala kedisrupsian era ini. “Digital maket place semakin mengharuskan setiap orang untuk dapat cerdas mengendalikan kemajuan teknologi tersebut. Yang ada adalah manusia yang mengendalikan Teknologi, bukan teknologi yang mengendalikan manusia.” Tambahan dari bapak yang mengenakan setelan jas berwarna coklat dan berdasi motif garis-garis tersebut.

Bambang Sumintono, P.hD University of Malaya, Malaysia yang berjudul Leading School Turnaround in a Developing Country: a case study in Indonesia. Pemateri yang mengenakan kemeja batik berwarna biru tersebut membahas poin yang berbeda dari dua pemateri lain, beliau menyampaikan tentang bagaimana memimpin sekolah yang berkelas menengah ke bawah di negara berkembang ini, dan studi kasus yang ada di negara Indonesia. Dari pembahasannya dapat disimpulkan bahwa kondisi sekolah menengah ke bawah ini cukup memprihatinkan yang mana kemampuan material masih belum bisa mencukupi pengembangan serta pengadaan/aksesibilitas teknologi digital yang membutuhkan modal lumayan besar. Oleh karena itu kepemimpinan sekolah memegang peranan penting dalam menciptakan kondisi untuk perbaikan dan perubahan yang langgeng mengacu pada sekolah yang telah secara signifikan meningkatkan kinerjanya dari ambang batas rendah

Assoc. Prof. Dr. Susan Ledger. Murdoch University, Australia menyampaikan penelitiannya yang berjudul Simulation in Higher Education: Choice, Challenges and Changing Practices. Dr Susan Ledger yang berasal dari Murdoch University, Western Australia menyampaikan bahwa dikatakan banyak lembaga menemukan diri mereka tidak menyadari keragaman teknologi di dalam universitas mereka sendiri mereka mencari bimbingan dan dukungan dari pihak eksternal daripada keahlian lokal dengan itu dapat disimpulkan Simulation artinya proses simulasi kurang dimanfaatkan oleh guru secara maksimal, Choice artinya pilihan pembelajaran harus transformatif bukan substitusi, Challenges artinya tantangan yang ada perlu diprediksi dan menantang, Changing Practices artinya ketika mengubah praktik membutuhkan perencanaan dan visi. Oleh karena itu pula Dr Susan Ledger mengembangakan pemanfaatan teknologi yang semula hanya ada dalam ruang kelas dirubah menjadi teknologi sebagai ruang kelas yang biasanya disebut Classroom Avatars >> SimLab@Murdoch – Australian Site License (Mursion). Simulasi Kelas Avatar ini merepresentasikan visual pengguna, menjadi suatu alter ego atau karakter tertentu. Setelah pemaparan materi dari para keynote speakers agenda seminar berikutnya ialah penyampaian materi dari para speakers di ruangan masing-masing.

“harapannya, agar kedepan bisa lebih bekerja sama lagi dengan UNESA untuk mengadakan research bersama. Karena yang namanya networking itu bukan hanya saling mengenal tetapi tentang bagaimana saling berbagi, anda membagi sesuatu dan yang lain membagi sesuatu kepada anda. Kerja sama dengan dosen dan mahasiswa di UNESA” sahut sang pembicara, Bambang Sumintono seorang lulusan Victoria University of Wellington. “sangat menginspirasi dan menjadi pengalaman berharga bagi saya, semoga ICEI dapat terus terlaksana dengan kualitas yang meningkat pula.” ujar peserta sekaligus presenter ICEI 2019, M. Fahmi Zakariyah Mahasiswa S1 PLS-2015.

Bangun Kecintaan Bangsa, Dosen FISH Paparkan Wawasan Kehidupan Bangsa dan Bernegara

fip.unesa.ac.id – Surabaya Mengakhiri PKKMB hari kedua, panitia PKKMB menyajikan materi tentang “Wawasan Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”. Pemberian wawasan ini berguna bagi garda muda agar semakin cinta tanah air, dan pada akhirnya memupuk dalam jiwa garda muda kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik. Hadir dalam materi kali ini, salah satu Dosen Sejarah Universitas Negeri Surabaya, R.N. Bayu Aji.

Dosen penggemar olahraga ini menjelaskan pentingnya generasi muda memahami 4 wawasan kehidupan berbangsa dan bernegara. Keempat hal tersebut yaitu memahami sejarah pancasila, UUD Republik Indonesia 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta hakikat Bhineka Tunggal Ika. Dalam sejarah, pancasila melintasi rangkaian panjang, mulai dari pembibitan yang dimulai pada tahun 1920an, fase perumusan yang dilaksanakan melalui sidang BPUPKI yang dilaksanakan dari tanggal 29 Mei sampai 1 Juni 1945, dan fase pengesahan pada tanggal 18 Agustus 1945.

Generasi milenial perlu memahami untuk apa memahami UUD Republik Indonesia 1945. Setidaknya ada 4 alasan yang mewajibkan garda muda memahaminya, yaitu memahami hak dan kewajiban warga negara, membangun warga negara yang taat hukum, ikut mengontrol pemerintahan, dan ikut berpartisipasi dalam pembangunan. Pluralitas bangsa indonesia yang berpotensi konflik, perlu disatukan melalui Bhineka Tunggal Ika. Adanya rasa kesatuan yang dirasakan oleh generasi milenial perlu terus ditanamkan, hingga rasa kesatuan diantara warga Indonesia bisa terjalin.

Di akhir materi, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum ini menyampaikan “Ibarat sebuah rumah Pancasila adalah pondasinya, tiangnya adalah undang-undang 1945, atapnya adalah NKRI, dan isinya adalah Bhinneka Tunggal Ika. Oleh karena itu, Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunngal Ika adalah satu kesatuan yang mengikat dan aling mendukung dalam membangun sebuah bangsa”.

Hadiri PKKMB Fakultas Ilmu Pendidikan, Bupati Nganjuk Ajak Garda Muda Cegah Korupsi

fip.unesa.ac.id – Surabaya Jam istirahat PKKMB hari kedua telah berakhir. Semua Garda Muda Dewantara telah siap menerima materi ketujuh mengenai “Peran Mahasiswa Dalam Mencegah Korupsi”. Hadir sebagai pemateri kali ini, Bupati Nganjuk, Novi Rahman Hidayat, S.Sos., M.M. Novi Rahman Hidayat, S.Sos., M.M merupakan bupati baru yang terpilih pada tahun 2018, dan menjabat hingga tahun 2023.

Bupati muda ini mengajak Garda Muda untuk mencegah korupsi dengan memulai dari diri sendiri. Korupsi dapat disebabkan banyak hal, misalnya moral yang rendah, adanya kesempatan, sifat konsumtif, dan lain sebagainya. Korupsi dapat berdampak pada meningkatnya kriminalitas, rasa solidaritas sosial yang langka, meningkatnya kemiskinan, demoralisasi, kepercayaan pada pemerintah turun, dan mahalnya biaya layanan publik yang diberikan. Oleh karena itu melalui Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, pemerintah merumuskan 7 perbuatan korupsi yang dapat dijerat dengan hukuman, yaitu merugikan keuangan negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, curang, adanya kepentingan dalam pengadaan, dan gratifikasi. Dalam menanggulangi hal tersebut, strategi yang dapat dilakukan adalah dengan melaksanakan penindakan, perbaikan sistem, serta memberikan edukasi dan kampanye mengenai anti korupsi.

Mahasiswa, sebagai generasi muda penerus bangsa perlu terlibat dalam gerakan anti korupsi. Dalam memberantas korupsi, mahasiswa memiliki peran sebagai agent of change dengan membawa pengaruh positif anti korupsi di masyaraat, menyuarakan kepentingan rakyat, mengkritisi kebijakan yang koruptif, dan menjadi pengawas lembaga negara dan penegak hukum. Oleh karena itu, bupati yang memiliki 4 anak ini mendorong mahasiswa untuk terlibat dalam gerakan anti korupsi baik di lingkungan keluarga, kampus, masyarakat sekitar, bahkan di tingkat lokal dan nasional.

Tanggulangi Terorisme, Rektorat Jumpa Garda Muda Melalui Teleconference

fip.unesa.ac.id – Surabaya Berbeda dengan tahun sebelumnya, materi keenam pada PKKMB kedua tahun ini disampaikan oleh pihak rektorat hanya kepada 75 peserta PKKMB delegasi Fakultas Ilmu Pendidikan di gedung rektorat. Selain 75 peserta PKKMB delegasi, peserta PKKMB lainnya mengikuti materi melalui teleconference di setiap fakultas. Fakultas Ilmu Pendidikan melakukan teleconference di ruang auditorium O5. Pada teleconference kali ini, Deputi V Kantor Staf Kepresidenan Jaleswari Pramodhawardani, M.A menjadi Keynote Speaker. Narasumber lainnya yang mengisi materi keenam ini diantaranya adalah Kapolda Jatim Brigadir Jenderal Polisi Drs. Toni Harmanto, M.H., Direktur Pencegahan BNPT Brigadir Jenderal Polisi Ir. Hamli, M.E., Rektor Universitas Negeri Surabaya yang diwakili oleh Wakil Rektor 1, dan penulis buku “Membongkar Proyek Khilafah HTI” Dr. Ainur Rofiq Al-Amin, S.H., M.Ag.

Deputi V Kantor Staf Kepresidenan menyampaikan terdapat 3 perubahan utama yang terjadi di tatanan nasional, yaitu kemunculan generasi milenial, tantangan identitas kebangsaan, dan fenomena hijrah di Indonesia. Berdasarkan data Bappenas, dari 132.000.000 pengguna internet, terdapat 86,5% generasi milenial usia 16-35 tahun sebagai pengguna internet. Hal ini perlu diberi perlakuan khusus agar generasi muda tidak terpengaruh budaya luar yang buruk. Dalam menghadapi tantangan identitas kebangsaan, perlu ditanamkan nilai-nilai pancasila pada generasi milenial. Fenomena hijrah seharusnya berpindah dari keadaan saat ini menuju keadaan yang lebih baik dengan mengaktualisasikan diri ke arah yang lebih positif sesuai dengan ideologi pancasila.

Brigjen Pol. Ir. Hamli, M.E. mengatakan perkembangan paham terorisme sangat menakutkan. Pencegahan dini dalam menanggulangi terorisme harus terus dilakukan. Berdasarkan hasil penelitian, motif aksi terorisme berasal dari ideologi agama, solidaritas komunal, mob mentality, balas dendam, situasional, dan separatisme. Proses rekrutmen radikalisme di kampus dilakukan dengan mendekati mahasiswa baru dengan berbagai pendekatan dan pada tahap selanjutnya mendoktrin mahasiswa dengan ajaran-ajaran radikal. Doktrinasi yang dilakukan dengan mengadakan pengajian yang bermaterikan tentang toghut, kafir demokrasi, khilafah, mati syahid, serta pembahasan takfiri. Menurut BNPT dalam menangkal terorisme kearifan lokal, kesejahteraan, kebebasan, kepercayaan umum, keadilan, dan pertahanan dan keamanan dapat dikembangkan oleh perguruan tinggi.

Wakil rektor 1 Prof. Dr. Bambang Yulianto, M.Pd  memaparkan bagaimana mengenali radikalisme melalui ciri-ciri yang terlihat. Setidaknya ada 4 ciri radikalisme yang dapat dilihat, yaitu memaksakan pendapat dan kehendak, ekslusif, fanatik, dan revolusioner. Mahasiswa sebagai generasi muda bangsa harus menolak dan tidak mengikuti pemikiran, sikap, dan perilaku yang mengarah pada ciri-ciri radikalisme. Generasi muda memiliki peran penting dalam menangkal radikalisme. Universitas Negeri Surabaya memiliki lembaga yang dibangun untuk menangkal munculnya radikalisme di kampus. Universitas Negeri Surabaya melalui Idaman Jelita, berusaha menangkal radikalisme yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.